Bola atau FOMC?

Bola atau FOMC?

Bola atau FOMC?
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Oleh Muhammad Edhie Purnawan, Ekonom UGM dan Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia

LAGA UEFA Euro 2020 semakin menggelegar. Portugal dengan lembut namun taktikal menjebol gawang Hungaria dengan 3 gol, tanpa balas. Ronaldo memborong 2 goal. Lalu. nanti malam dini hari, Kamis (17/6), Italia melawan Swiss akan digelar di Stadion Olimpico, Roma. Gli Azzurri sebutan untuk tim Italia akan sangat diuntungkan dalam pertarungan dini hari nanti. Pasalnya, pertandingan akan digelar di kandang Italia. Namun jagan lupa, bersamaan dengan itu, ada acara yang tak kalah ditunggu-tunggu oleh masyarakat dunia. Apakah itu? Dialah press conference FOMC meeting bulan Juni. Sebuah presscon dari pertemuan “operasi pasar” Bank Sentral Amerika yang akan disiarkan langsung dari kantor pusat the Fed di Washington.

FOMC ini adalah sebuah badan di dalam Federal Reserve System yang menetapkan kebijakan moneter. FOMC membuat semua keputusan tentang pelaksanaan operasi pasar terbuka yang akan mempengaruhi kondisi moneter, kredit, permintaan agregat, dan keseluruhan perekonomian; lalu juga FOMC menetapkan suku bunga resmi Bank Sentral Amerika (Federal Fund Rate, suku bunga di mana depository institutions saling pinjam-meminjamkan). FOMC juga menetapkan ukuran dan komposisi kepemilikan aset the Fed, dan melakukan komunikasi publik terhadap arah kebijakan moneter. FOMC ini ditetapkan sebagai bagian dari the Federal Reserve System dengan Undang-Undang.

Keanggotaan FOMC, terdiri dari 12 anggota yang memiliki hak suara (voting), tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Fedres Bank of New York, serta 4 dari 11 presiden Reserve Bank lainnya secara bergiliran. Dua belas presiden Reserve Bank ini menghadiri FOMC meeting, dan berpartisipasi dalam diskusi FOMC (diketuai oleh Gubernur the Fed, dan presiden Federal Reserve Bank of New York sebagai wakil), namun hanya presiden yang saat itu pas sedang mendapatkan giliran jadi anggota Komite saja yang dapat memberikan hak suara.

Dalam FOMC meeting nanti (17/6, pukul 01.30 WIB), akan dikumpulkan proyeksi-proyeksi individual dari participants Anggota FOMC meeting (empat kali setahun), termasuk Gubernur Bank Sentral Amerika yang akan disampaikan secara anonim. Output proyeksi ini biasanya antara lain meliputi: (1) GDP growth, (2) unemployment, (3) inflation, dan (4) FFR. Anggota komite dalam FOMC meeting mengajukan proyeksi tahun berjalan, proyeksi dua tahun berikutnya, dan proyeksi jangka panjang. Kemudian, dikompilasi, dan angkanya diterbitkan bersamaan dengan pernyataan FOMC oleh Gubernur the Fed. Untuk setiap indikator, The Fed merilis berbagai jenis proyeksi, lalu juga central tendency, dan yang paling utama adalah median forecast.

Bagi investor, ada beberapa hal penting yang ditunggu-tunggu. Mereka akan mencermati komentar The Fed terutama tentang taper talk, apakah the Fed telah mulai membahas tapering, kapan timing yang tepat untuk mengurangi kebijakan QE USD120 miliar (USD 80 miliar ditambah asset beragun kredit property USD40 miliar) per bulan, apakah FOMC khawatir terhadap kenaikan inflasi yang telah menyentuh angka 5 persen (Mei 2021), serta bagaimana kemungkinan kenaikan beberapa suku bunga jangka pendek juga menjadi fokus perhatian investor dan seluruh bank sentral dunia.

Data inflasi tahunan di AS meningkat menjadi 5 persen pada Mei 2021 lebih tinggi dari perkiraan pasar 4,7 persen (4,2 persen pada April). Angka ini tertinggi sejak Agustus 2008 di tengah pandemi COVID-19, serta meningkatnya permintaan konsumen, naiknnya harga komoditas, serta naiknya upah. Dua kenaikan harga tertinggi berasal dari BBM (56,2 persen) dan naiknya harga mobil bekas dan truk (29,7 persen). Beberapa ekonom merasa bahwa pasar US treasury telah menunjukkan sedikit persepsi kekhawatiran terhadap data yang dipaparkan. Namun setelah pertemuan April lalu, Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell merasa bahwa kenaikan inflasi transitory sampai 5 persen ini tak akan memicu kenaikan FFR, sehingga hal tersebut juga mendorong Jay beralasan bahwa di samping pasar tenaga kerja masih belum mencapai pemulihan secara optimal, data US T-Note juga diperdagangkan dengan yield yang relatif mendatar, sekitar 1 persen sampai 1,5 persen, plus business dan consumer confidence yang membaik (masing-masing dari 60,7 menjadi 61,2 dan 82,9 menjadi 86,4), serta data PMI (Purchasing Managers’ Index, manufacturing PMI, nonmanufacturing PMI dan services PMI) semuanya naik tinggi.

Di lain pihak, anggota dewan gubernur Lael Brainard dan presiden the Fed New York, John Williams telah menyampaikan kebijakan penundaan pengurangan pembelian obligasi, walaupun beberapa anggota lainnya setuju untuk memulai kebijakan tapering ini. Sebagian menilai bahwa pengetatan kebijakan moneter ini baru dapat dilakukan setelah melihat perkembangan indikator moneter pada bulan Agustus atau September.

John Williams cenderung menoleransi perekonomian yang memanas. Dua minggu yang lalu, dia membuat indikasi bahwa kemungkinan perekonomian yang memanas masih akan terjadi selama beberapa bulan ke depan. Meski Amerika kurang banyak membuat progress yang substansial terhadap inflasinya, namun tentu saja, diperlukan analisis mengenai di mana posisi perekonomian Amerika saat ini, bagaimana tujuan maximum employment, dan bagaimana stabilitas harga bisa tercapai, serta yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kebijakan moneter dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut ke depan.

Dengan demikian, The Fed diperkirakan tidak akan membuat langkah kebijakan drastis, namun mungkin akan memberi sinyal kepada pasar bahwa dia sedang berpikir untuk mengubah kebijakan pembelian obligasinya. Karena itu, para ekonom tidak boleh terlalu berharap tentang pengurangan program pembelian obligasi. Kemungkinan besar The Fed baru akan membahasnya nanti di musim panas.

Terhadap penantian presscon pertemuan FOMC ini, IHSG ditutup telah terkoreksi 0,17 persen (6.078) pada Rabu, 16/06/2021 ini. Pergerakan IHSG cenderung sideways dalam sepekan ini didorong oleh wacana tapering serta gejala perubahan arah kebijakan suku bunga the Fed yang mendorong aksi profit-taking. Pelemahan meski sedikit saja juga terjadi pada Rupiah. Hari ini Rabu (16/6) di pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,09 persen ke Rp14.238 per dolar AS. Sementara itu kurs tengah BI, ditutup di level Rp14.257 per dolar AS. Meski demikian, saya yakin, pelemahan ini hanya sementara, dan akan mendapatkan momentum kembali menguat setelah pengumuman FOMC meeting besok dini hari, karena the Fed cenderung ingin meminimalkan kemungkinan disrupsi pasar ketika nanti mulai mengurangi program pembelian obligasi pemerintah dan sekuritas berbasis hipotek.

Terakhir dan secara demikian, mirip dengan kebimbangan dan fokus konsentrasi anggota FOMC yang terbelah dua—satu pihak ingin mempertahankan kebijakan (lebih banyak supporternya), sementara di kubu satunya ingin tapering, dan dengan melihat seberapa kuat ekonomi, serta apakah sudah waktunya untuk mulai mempertimbangkan beralihnya kebijakan—maka khalayak pencandu bola nanti malam dini hari juga telah terbelah dua. Pendukung Italia merasa akan menang (sepertinya lebih banyak supporternya), karena Italia masuk pada sesi ini setelah menundukkan secara telak Turki 3-0, sementara itu Swiss, meski bermain di kandang lawan, tentu akan berusaha mati-matian memperbaiki posisi, setelah gagal mengalahkan Wales di Baku. Negeri yang terkenal dengan Emmental Swiss-nya (Keju Swiss) ini, tentu ingin bangkit kembali. 

Jadi, mari kita pilih: Bola atau FOMC? 

Atau ganti-ganti di antara keduanya: Bola, lalu FOMC, lalu Bola lagi, layaknya Zoom meeting secara bersamaan. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]