Perbankan

BOII Bukukan Laba Rp32,95 Miliar di November 2025, Terkontraksi 53,38 Persen

Poin Penting

  • Laba bersih BOII anjlok 53,38 persen yoy menjadi Rp32,95 miliar per November 2025, tertekan tingginya NPL (gross 6,12 persen) dan peningkatan provisi kredit bermasalah
  • Kinerja operasional melemah, tercermin dari laba operasional yang turun 52,20% yoy, meski kredit masih tumbuh 5,53 persen menjadi Rp4,18 triliun dan DPK naik 13,38 persen menjadi Rp3,40 triliun.
  • BOII tetap optimistis ke depan, berkomitmen memperbaiki kualitas aset, memperkuat SDM, dan menjaga rasio keuangan, serta menegaskan dukungan penuh terhadap program pemerintah.

Jakarta – PT Bank of India Indonesia (BOII), mengalami penurunan laba bersih 53,38 persen secara tahunan (yoy) dari Rp70,77 miliar di November 2024 menjadi Rp32,95 miliar pada November 2025.

Rahmat Hendratama, Direktur Keuangan BOII, membeberkan beberapa faktor yang membuat laba perusahaan terkoreksi. Salah satunya tekanan datang dari rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) yang cukup tinggi.

“Karena kami masih banyak kredit yang masih bermasalah, kami secara konservatif meningkatkan provisi kita di tahun 2025, dari Rp93miliar menjadi Rp152,8 miliar atau meningkat sekitar 39 persen,” katanya dalam Public Expose BOII, Rabu, 17 Desember 2025.

Menurutnya, NPL gross pada November 2025 masih di kisaran 6,12 persen. Sementara, NPL net sebesar 4,94 persen. Akibatnya, laba operasional bank mengalami kontraksi yang cukup dalam mencapai 52,20 persen (yoy) menjadi Rp44,16 miliar. Sejurus dengan itu, laba bersih perseroan ikut tertekan.

Baca juga: BTN Catatkan Laba Bersih Rp2,91 Triliun per November 2025

Dari sisi intermediasi, BOII mencatat pertumbuhan kredit sebesar 5,53 persen (yoy) menjadi Rp4,18 triliun di November 2025.

“Pertumbuhan kredit perbankan di saat ini juga berkurang dari kira-kira 12 persen di tahun lalu, menjadi sekitar 7 persen. Hal ini berdampak kepada bank kami, yang mana demand dari kredit menurun dan utilisasi dari kredit di bank kami juga sangat rendah,” bebernya.

Pun demikian dengan dana pihak ketiga (DPK) perseroan terkerek naik 13,38 persen (yoy) dari Rp3,00 triliun di November 2024 menjadi Rp3,40 triliun per November 2025.

Pertumbuhan kredit dan DPK tersebut mendorong aset perseroan menjadi Rp6,94 triliun per November 2025, atau naik 6,41 persen (yoy).

Sementara dari rasio keuangan lainnya, Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di angka 88,68 persen. Adapun Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing-masing sebesar 0,71 persen dan 1,07 persen.

Sedangkan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) menyentuh 91,01 persen. Sementara, Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 122,98 persen dan Net Interest Margin (NIM) berada di kisaran 4,30 persen.

Selaras dengan Program Pemerintah

Ke depan, BOII berkomitmen untuk terus tumbuh dan berekspansi secara berkelanjutan. Beberapa aspek yang akan menjadi perhatian khusus meliputi pengembangan sumber daya manusia (SDM), perbaikan rasio keuangan seperti NPL dan CASA, serta pemantauan risiko.

Di kesempatan yang sama, Carolina Dina Rusdiana, Direktur Operasional BOII, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendukung dan sejalan dengan program-program pemerintah.

“Apapun kebijakan yang akan dilakukan dan diputuskan oleh pemerintah, kami yakin kami bisa selaras dengan kebijakan yang pemerintah akan dilakukan. Kami berharap ekonomi akan baik, stabil, dan kami akan mengikuti arah perkembangan ekonomi di negara ini,” katanya.

Baca juga: Laba Bank Neo Commerce Terbang 7.300 Persen Jadi Rp517,20 Miliar di Oktober 2025

Sejauh ini, BOII melihat kalau program-program yang dijalankan pemerintah berjalan dengan baik. Dina memuji kinerja Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang agresif untuk mendorong perekonomian.

Melihat kinerja pemerintah Indonesia di tahun 2025, ia optimis kalau perusahaan akan tumbuh dengan baik pada 2026 mendatang.

“Kami tetap optimis. Dengan berbagai macam gejolak, force majeur, kemarin ada bencana, kami pemerintah cepat dalam menyelesaikan semua masalah. Sehingga, tahun 2026, kami juga optimis kita juga mempunyai target-target kinerja yang meningkat. Kami harus tetap meningkatkan kinerja dengan maksimal,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Ekspansi Ritel, MR.DIY Indonesia Siap Tambah 270 Toko dan Flagship Store di 2026

Poin Penting MR.DIY Indonesia menargetkan pembukaan sekitar 270 toko baru pada 2026. Ekspansi didukung arus… Read More

2 hours ago

Geopolitik dan Harga Minyak Bayangi Ekonomi 2026, Permata Bank Lakukan Strategi Ini

Poin Penting Ekonom Permata Bank menilai geopolitik dan pasar global menjadi tantangan ekonomi 2026. Konflik… Read More

3 hours ago

Klaim Bencana Sumatra Belum Tuntas, Jasindo Targetkan Finalisasi Mei 2026

Poin Penting Jasindo masih memverifikasi kerusakan aset akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Nilai kerugian… Read More

4 hours ago

Ekonom Ingatkan PR Besar Pimpinan Baru OJK, dari Pasar Modal hingga Risiko BPR

Poin Penting Ekonom Permata menilai kepemimpinan baru OJK diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Transformasi integritas… Read More

4 hours ago

ICDX Gelar Commodity Outlook 2026

Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengadakan ICDX… Read More

4 hours ago

KPK Tahan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Poin Penting KPK resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait kasus kuota haji.… Read More

5 hours ago