Ilustrasi - Gedung BNI di Jakarta. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyatakan penyesuaian outlook lembaga pemeringkat Moody’s dari stabil ke negatif terhadap sejumlah perbankan di Indonesia tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan maupun profil risiko internal perseroan
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, posisi perseroan saat ini masih di level investment grade. Ini tercermin dari posisi kinerja perseroan akhir 2025.
“Perubahan outlook Moody’s tersebut sejalan dengan penyesuaian outlook sovereign Pemerintah Indonesia dan tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan maupun profil risiko internal BNI,” kata Okki saat dihubungi Infobanknews, Kamis, 12 Februari 2026.
Baca juga: Bos LPS Buka Suara soal Outlook Moody’s: Fundamental Ekonomi RI Tak Berubah
Hingga akhir 2025, kata Okki, fundamental BNI tetap terjaga dengan baik. Indikator utama seperti permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas berada pada level yang sehat dan sesuai dengan ketentuan regulator, dengan struktur pendanaan yang dikelola secara prudent.
Menyikapi perubahan outlook tersebut, Okki menegaskan bahwa BNI terus berfokus pada pengelolaan bisnis yang hati-hati dan berkelanjutan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
“Strategi penyaluran kredit tetap dijalankan secara selektif dan terukur, dengan mengedepankan kualitas dan prinsip kehati-hatian,” ungkapnya.
Baca juga: Soal Outlook Negatif RI, Danantara Siap Berdialog dengan Moody’s
Selain itu, BNI juga terus bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan pasar.
Sebagaimana diketahui, lembaga pemeringkat utang Moody’s mengubah outlookatau proyeksi lima bank jumbo di Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Sejumlah bank tersebut di antaranya, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), BNI, Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN). (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Menkeu Purbaya menyebut peluang pembayaran utang KCIC Whoosh menggunakan APBN masih 50:50 dan… Read More
Poin Penting Komisi VI memuji respons cepat Pertamina menjaga pasokan energi saat bencana di Sumbar,… Read More
Poin Penting KEK Industropolis Batang tampil di China Conference Southeast Asia 2026 dan menjadi sorotan… Read More
Poin Penting Kejaksaan Agung mengungkap modus korupsi ekspor CPO dengan merekayasa klasifikasi komoditas untuk menghindari… Read More
Poin Penting PIP siap membiayai UMKM dalam ekosistem Kopdes Merah Putih, dengan syarat pembiayaan produktif… Read More
Poin Penting SMF menyatakan mendukung program gentengisasi Prabowo, namun masih menunggu penjelasan teknis dari Kementerian… Read More