Direktur Operations BNI, Ronny Venir. (Foto: Irawati)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) masih membuka peluang untuk menambah Kantor Cabang Luar Negeri (KCLN) di masa mendatang, terutama di negara-negara yang dinilai memiliki potensi bisnis besar.
Direktur Operations BNI, Ronny Venir, menyampaikan bahwa untuk tahun ini, perseroan belum berencana membuka cabang baru di luar negeri. Menurutnya, BNI akan lebih dulu fokus mengelola dan mengoptimalkan potensi dari delapan kantor cabang luar negeri yang sudah beroperasi.
Saat ini, BNI memiliki KCLN di delapan lokasi strategis, yakni Singapura, Hong Kong, Tokyo dan Osaka (Jepang), New York (Amerika Serikat), Seoul (Korea Selatan), London (Inggris), Amsterdam (Belanda), dan Sydney (Australia).
“Jadi saya pikir untuk sementara cukup itu dulu. Nanti kita optimalkan. Kita nanti melihat kira-kira ada negara mana lagi yang misalkan potensial untuk kita buka cabang di situ,” ujar Ronny saat ditemui di Jakarta, Senin, 10 November 2025.
Baca juga: Jaga Pertumbuhan Kinerja, BNI Perkuat Fundamental dengan Digitalisasi dan Efisiensi
“Tapi pelan-pelan, saya rasa untuk tahun ini tidak ada buka cabang baru lagi. Mungkin nanti next, mungkin kalau ada potensi yang lebih bagus kita akan coba buka,” imbuhnya.
Selain fokus pada penguatan jaringan cabang luar negeri, BNI juga terus melakukan sosialisasi dan edukasi keuangan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di negara tempat cabang BNI beroperasi.
Upaya ini bertujuan untuk mendorong PMI menggunakan layanan BNI sekaligus meningkatkan literasi keuangan mereka.
Baca juga: 70 Persen Gaji Masih Konsumtif, Menteri P2MI-OJK Dorong PMI Mulai Berinvestasi
Baca juga: OJK Ingatkan PMI: Jangan Pinjamkan Identitas, Meski yang Minta Ganteng atau Cantik
Ronny menjelaskan, masih banyak PMI yang menjadi korban penipuan atau investasi bodong akibat kurangnya pemahaman terkait keamanan data pribadi.
“Makanya kami berikan edukasi supaya mereka tidak memberikan OTP, harus mengganti password secara rutin. Harus aksesnya di device-nya juga tidak ada single entry,” katanya lagi.
“Harus mungkin ada fingerprint, ada face recognition dan segala macam. Itu semua untuk keamanan data mereka supaya tidak gampang discam oleh PMI lain,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More
Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More
Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More
By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More
Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More