Perbankan

BNI Cetak Laba Bersih Rp10,1 Triliun di Semester I 2025

Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI hingga semester I 2025 BNI membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp10,1 triliun. Angka ini terkoreksi 5,6 persen secara tahunan (yoy) dari tahun sebelumnya pada periode yang sama seniai Rp10,7 triliun.

Mengutip laporan keuangan BNI, raihan laba BNI ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 2,33 persen yoy menjadi Rp19,51 triliun dibanding semester I 2024 lalu yang sebesar Rp19,07 triliun.

Namun, terjadi tekanan pada pos pendapatan, seperti pendapatan komisi yang menurun 2,20 persen menjadi sebesar Rp4,84 triliun. Kemudian, pendapatan lainnya juga terkontraksi 1,01 persen yoy menjadi Rp2,83 triliun.

Dari sisi intermediasi, hingga akhir semester I 2025, penyaluran kredit BNI tumbuh 7,1 persen yoy menjadi Rp778,7 triliun.

Kredit korporasi tumbuh 10,4 persen yoy menjadi Rp435,8 triliun, terutama berasal dari korporasi swasta, BUMN, dan institusi pemerintah.

Sementara, kredit kepada sektor swasta dan institusi naik 11,1 persen yoy menjadi Rp314,6 triliun, dan kredit ke BUMN tumbuh 8,7 persen yoy menjadi Rp121,2 triliun.

Baca juga: BNI Salurkan 25.000 Unit KPR FLPP, Dukung Program 3 Juta Rumah Pemerintah

Lebih lanjut, segmen konsumer mencatat pertumbuhan 10,7 persen yoy menjadi Rp147 triliun. Ini didorong oleh personal loan yang naik 11,7 persen yoy menjadi Rp60,1 triliun dan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang meningkat 9,9 persen yoy menjadi Rp68,4 triliun.

Kredit segmen kecil, yaitu UMKM non-KUR telah menunjukkan pertumbuhan positif tahun ini, dimana tumbuh 9,2 persen yoy menjadi Rp44,4 triliun.

Selain itu, kredit segmen komersial juga telah mulai menunjukkan momentum pertumbuhan dengan mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,5 persen yoy.

Sebagai hasil dari akselerasi kredit pada segmen berisiko rendah, kualitas aset BNI terus membaik. Ini ditandai dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) membaik ke 1,9 persen, dan Loan at Risk (LAR) juga membaik menjadi 11,0 persen, sehingga Cost of Credit (CoC) dapat dijaga di level 1 persen.

BNI mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 16,5 persen yoy menjadi Rp900 triliun, didominasi oleh peningkatan dana murah (CASA) yang tumbuh 18,7 persen yoy menjadi Rp647,6 triliun.

Pertumbuhan rekening giro sebesar 25,1 persen yoy dan tabungan 10,5 persen yoy mendorong peningkatan rasio CASA menjadi 72,0 persen atau naik dari 70,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: Dukung Global Citizen, BNI Luncurkan Fitur Multicurrency di Aplikasi Wondr

Wakil Direktur Utama BNI Alexandra Askandar menyampaikan, perseroan berhasil memperkuat posisi fundamental di tengah stabilitas ekonomi makro dan transisi pemerintahan yang berjalan baik.

“Kami melihat penguatan CASA dan kualitas aset sebagai pilar utama untuk memperkuat kapasitas ekspansi kredit di semester kedua. Fokus kami tetap pada sektor produktif seperti pertanian, industri makanan dan minuman, telekomunikasi, infrastruktur, perumahan, hilirisasi energi, dan UMKM,” ujar Alexandra yang akrab disapa Xandra dikutip Jumat, 25 Juli 2025.

Sepanjang semester I 2025 ini, BNI juga berhasil menjaga rasio likuiditas dan permodalan pada level yang sehat. Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di 86,2 persen, sementara Loan to Cash Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) masing-masing mencapai 144,2 persen dan 143,0 persen. Sementara, Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 21,1 persen. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Ekspansi Ritel, MR.DIY Indonesia Siap Tambah 270 Toko dan Flagship Store di 2026

Poin Penting MR.DIY Indonesia menargetkan pembukaan sekitar 270 toko baru pada 2026. Ekspansi didukung arus… Read More

8 hours ago

Geopolitik dan Harga Minyak Bayangi Ekonomi 2026, Permata Bank Lakukan Strategi Ini

Poin Penting Ekonom Permata Bank menilai geopolitik dan pasar global menjadi tantangan ekonomi 2026. Konflik… Read More

9 hours ago

Klaim Bencana Sumatra Belum Tuntas, Jasindo Targetkan Finalisasi Mei 2026

Poin Penting Jasindo masih memverifikasi kerusakan aset akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Nilai kerugian… Read More

9 hours ago

Ekonom Ingatkan PR Besar Pimpinan Baru OJK, dari Pasar Modal hingga Risiko BPR

Poin Penting Ekonom Permata menilai kepemimpinan baru OJK diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Transformasi integritas… Read More

10 hours ago

ICDX Gelar Commodity Outlook 2026

Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengadakan ICDX… Read More

10 hours ago

KPK Tahan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Poin Penting KPK resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait kasus kuota haji.… Read More

11 hours ago