Poin Penting
Jakarta – Produk buy now pay later (BNPL) semakin banyak digandrungi oleh pelaku perbankan. PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC; IDX: BBYB) menjadi salah satu yang tertarik untuk menjajal peluncuran produk tersebut.
“Januari 2026 sudah masuk tahap uji coba terbatas,” ungkap Eri Budiono, Direktur Utama BNC di sela-sela agenda Public Expose BNC, Selasa, 16 Desember 2025.
BNC sendiri sejatinya sudah terhubung dengan ekosistem BNPL milik PT Akulaku Finance (Akulaku), yang merupakan pemegang saham terbesar bank. Pengembangan produk paylater ini murni berasal dari BNC.
Menurut Eri, BNC mengembangkan BNPL untuk mendorong daya saing bank digital. BNC ingin merambah penyaluran kredit ke segmen underbanked yang notabene masih minim akses terhadap pembiayaan.
Baca juga: Laba Bank Neo Commerce Terbang 7.300 Persen Jadi Rp517,20 Miliar di Oktober 2025
“Akses ke perbankan masih sangat limited, kebanyakan (hanya) e-wallet nah itu yang justru digital banking, dengan kemampuan alternative credit scoring ini masuk ke segmen blue ocean-nya,” paparnya.
Eri menambahkan, saat ini masih ada sejumlah bank konvensional yang belum bersaing di tanah BNPL. Kebanyakan masih mengandalkan channeling melalui fintech lending. Ini dinilai bisa menjadi keunggulan tambahan bagi pelaku bank digital untuk merambah ke produk ini.
Sementara, Sufen Triantio, Chief Financial Officer (CFO) BNC, menyebut produk paylater direncanakan meluncur pada semester I 2026. BNC menargetkan penyaluran awal sampai dengan Rp200 miliar hingga penutup 2026.
“Mungkin kuartal II (sudah rampung). Dan harapan kami di akhir tahun penyalurannya bisa tembus Rp200 miliar,” katanya.
Baca juga: Bos Superbank: Peluang Industri Bank Digital RI Masih Terbuka Lebar
BNC punya produk bernama Neo Loan, yang menjadi andalan dalam menyalurkan pembiayaan. Jelang penutup 2025, angkanya sudah mendekati Rp600 miliar, dan pertumbuhannya di kisaran 139 persen secara tahunan (yoy).
Namun begitu, hingga Oktober 2025, BNC mengalami kontraksi penyaluran kredit sebesar 14,16 persen (yoy), dari Rp8,62 triliun menjadi Rp7,40 triliun.
Namun dari kualitas kredit terjaga. Ini tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) gross sebesar 2,89 persen di periode tersebut, berbanding 3,74 persen per Oktober 2024. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Demutualisasi BEI membuka peluang investor asing menjadi pemegang saham, mengikuti praktik bursa efek… Read More
Poin Penting Demutualisasi BEI dinilai tidak memicu konflik kepentingan, karena pengaturan dan pengawasan tetap di… Read More
Poin Penting BTN Expo 2026 ditutup dengan Awarding BTN Housingpreneur 2025, menyoroti lahirnya 58 inovator… Read More
Poin Penting Jeffrey Hendrik digadang menjadi Pjs Dirut BEI, namun memilih menunggu pengumuman resmi. Penunjukan… Read More
Poin Penting OJK memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga usai penunjukan Friderica Widyasari Dewi sebagai… Read More
Poin Penting OJK dan SRO akan menaikkan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi… Read More