News Update

Bisnis Ritel Makanan di AS Lesu, Bagaimana di Indonesia?

Jakarta – Bisnis ritel modern boleh jadi saat ini sedang lesu berat. Buktinya banyak gerai ritel modern ditutup demi mengurangi beban pengeluaran perusahaan, seiring sepinya pembeli. Contoh Ramayana dan Matahari.

Hal inipun tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di luar negri. Penyebab utama apa lagi kalau bukan oleh turunnya daya beli masyarakat khususnya kelas menengah kebawah. Terakhir, kabarnya peritel makanan cepat saji Subway di AS yang ikut tergulung dalam pusaran kelesuan bisnis sepanjang tahun ini.

Sepanjang 2017, kabarnya jumlah gerai Subway di Amerika Serikat telah menyusut hingga hampir seribu atau tepatnya 909 cabang. Jumlah toko tutup tersebut 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Apakah ini juga akan terjadi di Indonesia? Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan. Karena bukan tidak mungkin hal tersebut akan merembet ke berbagai sektor lainnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan, penurunan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah ditunjukkan oleh pendapatan riil petani, dan buruh bangunan yang turun sejak 3 tahun terakhir.

“Kalau pendapatan riilnya turun maka belanja jadi terpengaruh,” jelas Bhima kepada Infobank, Rabu, 27 Desember 2017.

Namun lanjut Bhima, segmen ritel modern yang paling terkena dampak di Indonesia ada dua, yakni pakaian jadi dan elektronik.

Ia menjelaskan, berdasarkan data per Semester I 2017 omset penjualan tenant di Glodok Plaza anjlok -34%, Mangga Dua Mall turun -23% dan Mangga Dua Plaza -20%. Ketiga tempat tersebut jadi indikator turunnya pasar barang elektronik konvensional.

Sementara bisnis konvensional yang menjual barang makanan atau kebutuhan pokok masih bisa bertahan dengan pertumbuhan konsumsi sebesar 5%.

Artinya jika terjadi penurunan di segmen makanan lebih dipengaruhi lesunya daya beli masyarakat bukan pergeseran ke online.

“Jadi ini hanya siklus temporer. Setelah ekonomi kembali pulih maka penjualan bahan makanan naik kembali,” pungkasnya.

Kalau ritel makanan sendiri tambahnya Indonesia tidak akan senasib dengan AS. Pertumbuhan restoran di Indonesia dinilainya masih cukup bagus. Apalagi tren generasi milenial lebih suka jalan jalan dan makan di luar.

“Tahun depan juga ada event politik, seagames dan lain-lain ini akan mendorong ritel makanan tumbuh lebih tinggi dari tahun 2017,” tutupnya. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Askrindo dan Pemkab Bone Bersinergi Perkuat Pelindungan Risiko dari Aset hingga Usaha Mikro

Poin Penting Askrindo menjalin kerja sama dengan Pemkab Bone untuk penjaminan suretyship dan asuransi umum… Read More

1 hour ago

Hadirkan Fasilitas Kesehatan Premium, BRI Life dan RS Awal Bros Jalin Kolaborasi Strategis

Poin Penting BRI Life dan RS Awal Bros Group meresmikan fasilitas rawat inap premium The… Read More

2 hours ago

Jamkrindo Bukukan Laba Bersih Rp1,05 Triliun pada 2025

Poin Penting Jamkrindo membukukan laba sebelum pajak Rp1,28 triliun dan laba bersih Rp1,05 triliun di… Read More

2 hours ago

FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Modal RI, Begini Respons OJK

Poin Penting Status Indonesia tetap di kategori Secondary Emerging Market versi FTSE Russell dan tidak… Read More

2 hours ago

Kaspersky Catat Pertumbuhan Positif 2025, Target Double Digit di 2026

Poin Penting Ancaman siber di Indonesia meningkat tajam pada 2025, dengan jutaan serangan berhasil diblokir… Read More

3 hours ago

Rupiah Dibuka Melemah, Pelaku Pasar Ragu Gencatan Senjata AS-Iran Bertahan

Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.035 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS. Sentimen… Read More

3 hours ago