News Update

Bisnis Pangan Dinilai Paling Potensial disaat Pandemi

Jakarta – Pandemi Covid-19 mengubah banyak aspek dalam kehidupan masyarakat, termasuk mengubah pola konsumsi serta bagaimana masyarakat mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari. Merespons pergeseran ini, banyak orang mulai melirik peluang usaha yang dapat berkembang tidak hanya pada masa pandemi seperti saat ini, tetapi hingga tahun-tahun mendatang.

Menanggapi hal tersebut, Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) UGM, Prof. Dr. Catur Sugiyanto, M.A., menilai usaha di bidang pangan, terutama sektor pengolah produk pertanian menjadi pangan olahan, serta bidang kesehatan, menjadi yang paling potensial untuk berkembang. “Potensi konsumennya tidak pernah habis,” kata Catur melalui keterangan resminya di Jakarta, Jumat 26 Febuari 2021.

Sejak awal perkembangan pandemi dan penerapan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat, bisnis di bidang makanan dan juga kesehatan dinilai mampu bertahan. Tidak sekadar mampu bertahan, menurut Catur sektor usaha ini juga bahkan cenderung tidak mengalami penurunan omzet yang signifikan jika dibandingkan dengan sektor usaha lainnya.

“Untuk non-makanan dan non-kesehatan sangat berat, karena permintaan konsumen menurun drastis,” ucapnya.

Pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat ramai-ramai membatasi aktivitas di luar rumah memang membuat sejumlah pengusaha kehilangan konsumen dalam jumlah yang signifikan. Tidak sedikit pengusaha yang akhirnya memutuskan untuk menutup usaha karena tidak memperoleh pemasukan sehingga tidak mampu membayar gaji karyawan atau biaya sewa untuk tempat yang digunakan berjualan.

Kondisi ini dialami baik oleh UMKM maupun usaha menengah dan besar. Meski demikian, menurut Catur, UMKM terlihat lebih mampu bertahan dibandingkan dengan usaha yang lebih besar di sektor usaha yang sama.

Usaha kecil di bidang makanan, misalnya, bisa bertahan mengingat banyak rumah tangga tetap memerlukan makanan, namun karena penghasilan yang menurun maka mereka cenderung mengurangi belanja di usaha menengah dan besar ke usaha yang di bawahnya.

“Ibaratnya mengurangi makan di restoran mewah, pindah ke yang lebih sederhana,” jelasnya.

Untuk itu, usaha dalam skala kecil tetap memiliki peluang untuk berkembang di masa pandemi. Menurut Catur, UMKM yang fleksibel dalam jenis usahanya akan lebih bisa bertahan di masa pandemi dan masa setelahnya. (*)

Editor: Rezkiana Np

Suheriadi

Recent Posts

Masjid Istiqlal Jalin Sinergi dengan Forum Pemred

Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) bersinergi dalam diskusi bertema "Peran Masjid Istiqlal di Era Transformasi Digital… Read More

43 mins ago

Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2026

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar pertemuan tahunan industri jasa keuangan yang digelar rutin untuk menyampaikan… Read More

54 mins ago

PaninBank Perkenalkan Aplikasi MyPanin

Dengan adanya MyPanin, menegaskan komitmen PaninBank dalam menghadirkan aplikasi layanan perbankan digital yang komprehensif, nyaman,… Read More

56 mins ago

Saham TUGU Rebound Cepat Setelah Koreksi, Intip Pemicunya

Poin Penting Sempat terkoreksi 5,15 persen ke Rp1.115 saat IHSG anjlok akibat sentimen MSCI, saham… Read More

58 mins ago

BCA Syariah Permudah Akses Pembiayaan Rumah, Kendaraan dan Emas di BCA Expoversary 2026

Melalui kehadiran booth ini, BCA Syariah memperkenalkan berbagai produk dan layanan perbankan syariah, yaitu mobile… Read More

60 mins ago

Indonesia Bak “Macan Pincang”: Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen, tapi Moody’s “Menampar” dengan Rating Negatif

Oleh: Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group PERTUMBUHAN ekonomi kuartal IV tahun 2025 sebesar… Read More

2 hours ago