Bisnis CPO Kian Menjanjikan, Nusantara Sawit Siap IPO

Bisnis CPO Kian Menjanjikan, Nusantara Sawit Siap IPO

Bisnis CPO Kian Menjanjikan, Nusantara Sawit Siap IPO
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) berencana menggelar penawaran saham umum perdana (IPO) pada Kuartal IV tahun ini. Perusahaan sudah menunjuk tiga perusahaan sekuritas, yaitu Samuel Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dan BRI danareksa sebagai penjamin emisi.

Komisaris PT Nusantara Sawit Sejahtera, Robiyanto mengungkapkan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk melepas saham kepada publik. Terutama melihat dari potensi kenaikan harga CPO menyusul kenaikan kebutuhan minyak nabati dunia.

“Harga komoditas oke, Pemerintah melakukan berbagai perbaikan regulasi,  Perusahaan siap menjalankan tata kelola perusahaan yang baik. Ini menjadi dasar kami menggelar IPO,” jelasnya, dalam media briefing Prospek Industri Sawit Indonesia, di Jakarta, Jumat, 8 Oktober 2021.

Di sisi lain, dari internal perusahaan ada kebutuhan modal untuk memperkuat kapasitas usaha guna memanfaatkan peluang bisnis di industri kelapa sawit yang sangat besar, yaitu menambah pabrik kelapa sawit (PKS) dan kegiatan penelitian dan pengembangan.

“Untuk jumlah saham yang akan dilepas masih digodok terus. Kami perkirakan freefloat sekitar 40 persen. Kami membidik kapitalisasi pasar setelah IPO sudah mencapai Rp4,1 triliun. Dana IPO diperkirakan Rp1,6 triliun. Harga diperkirakan di sekitar Rp122 hingga Rp150 per saham,” tambahnya.

Dana hasil IPO, kata dia, akan digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan milik perkebunan, serta lahan petani sawit plasma di sekitar perusahaan. Robiyanto menilai, NSS perlu memperkuat riset dan pengembangan budi daya sawit.

“Penelitian diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan milik perusahaan juga milik petani rakyat di sekitar perusahaan. NSS berupaya meningkatkan produktivitas sawit nasional tidak hanya di kebun milik sendiri, tetapi juga tanaman petani yang saat ini selisihnya masih sangat jauh di bawah kebun perusahaan,” ujar Robiyanto.

Keunggulan NSS sendiri adalah umur tanaman masih 7 tahun. Ini artinya lagi produktif dan masa produktifnya masih panjang. “Ibaratnya sedang mekar-mekarnya. Kualitas CPO premium, serta lokasi premium karena dekat dengan bandara, pelabuhan dan perkebunan,” terangnya.

Pada tahun 2021, NSS berhasil mencatatkan laba sebesar Rp217 miliar dengan luas lahan inti NSS mencapai 26.597 ha dan lahan plasma 760 ha. Sedangkan dari sisi produksi tahunan, NSS mencatatkan hasil produksi 18 ton per ha untuk TBS dan 94.116 ton untuk produksi CPO.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERHEPI, Bustanul Arifin mengatakan, prospek industri kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia masih besar bahkan pada saat pandemi Covid-19.

Harga minyak sawit mentah tumbuh di luar perkiraan dalam beberapa bulan terakhir. Pada April 2019, harga minyak sawit masih di level Rp6.750 per kg. Sedangkan per 24 September 2021 sudah menyentuh Rp12.951 per kg. Turunnya kepercayaan terhadap dolar juga memunculkan spekulasi yang memicu naiknya harga minyak sawit mentah.

“Dinamika sawit global masih akan terus terjadi. Indonesia harus lebih siap menjawab tantangan dari pasar Uni Eropa dengan memperkuat diplomasi. Dari dalam negeri, perlu dilakukan perbaikan perencanaan dan tata ruang wilayah dan hilirisasi, termasuk B30 yang sudah menaikkan harga CPO di dalam negeri,” paparnya.

Di sisi lain, dia menilai pemerintah harus lebih gencar melakukan diplomasi, terutama kepada Uni Eropa, baik pada masa krusial pandemi Covid-19 dan kelak pascapandemi. Di dalam negeri, dia menilai pemerintah perlu membuka moratorium lahan kebun sawit.

Bustanul mengatakan Indonesia jangan terkecoh dengan kampanye negatif yang mengatasnamakan lingkungan oleh kompetitor minyak nabati dunia. Alasannya, sawit adalah keunggulan komparatif yang tidak bisa diikuti oleh banyak negara.

“Justru Indonesia harus berjuang. Jangan hanya menjadi penguasa produksi, tetapi juga dari sisi perdagangan dunia. Sudah saatnya, pemerintah dan asosiasi memperjuangkan agar harga sawit internasional ditentukan di Indonesia, bukan Pasar Komoditas Rotterdam,” terangnya. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]