News Update

Bisakah Indonesia Capai 2 Juta Mobil Listrik 2030? Ini Analisisnya

Poin Penting

  • Pemerintah menargetkan 2 juta mobil listrik, butuh penjualan 350.000-400.000 unit per tahun.
  • SPKLU belum merata dan masyarakat masih mempertimbangkan harga jual kembali mobil listrik.
  • Subsidi, keringanan PPN, dan strategi meningkatkan daya beli dibutuhkan agar pasar mobil listrik tidak stagnan.

Jakarta – Pemerintah Indonesia menargetkan 2 juta unit populasi mobil listrik pada 2030. Merespons target pemerintah ini, Research Associate ID Comm, Claudius Surya mengatakan bahwa untuk mencapai target itu, rata-rata penjualan mobil listrik di Indonesia harus bisa mencapai 350.000 unit sampai 400.000 unit setiap tahun.

Sementara berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil listrik selama 2023 sampai 2025 baru mencapai sekitar 100.000 unit.

“Soalnya kalau hitung kasarnya, saat ini 100 ribu. Berarti, kita dalam 5 tahun, masih mengejar 1,9 juta unit. 1,9 juta dibagi 5 tahun, berarti harus sekitar Rp350.000 sampai Rp400.000 per tahun,” sebut Claudius saat konferensi pers peluncuran riset ID Comm bertajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap” di Jakarta, Kamis, 11 Desember 2025.

Baca juga: Insentif Impor Mobil Listrik CBU Disetop 2026, Ini Prediksi Harga Jual di RI

Ia mengungkapkan, pangsa penjualan mobil listrik dari total penjualan mobil di Indonesia saat ini berada di kisaran 17 sampai 18 persen. Menurutnya, jika pangsa itu bisa menembus 20 persen per tahun, maka itu sudah menjadi pencapaian positif untuk penjualan mobil listrik di Indonesia.

“Saat ini jumlah penjualan mobil di Indonesia lagi terdistorsi, 780.000-800.000 unit mobil terjual tahun ini. Bila kita bisa jual mobil listrik tahun ini 200.000, itu sudah 20 persen. Tapi, apakah bisa naik jadi 300.000-350.000, time will tell,” ucapnya.

Menurutnya, semua itu tergantung pada dukungan ekosistem komprehensif yang ada ke depannya. Ia lalu membandingkan dengan China, dimana pangsa penjualan mobil listrik di China telah mencapai lebih dari 30 persen, didukung oleh jaringan infrastruktur yang sudah masif.

Sedangkan di Indonesia sendiri, jaringan infrastruktur utama seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih belum merata tersebar. Belum lagi ditambah persoalan mindset membeli mobil sebagai salah satu aset investasi.

Baca juga: Riset ID Comm: Mobil Listrik Masih Jadi “Mainan” Kelas Menengah Atas

Harga jual mobil listrik pasca tangan pertama yang masih jeblok membuat mayoritas masyarakat atau early majority memandang rugi membeli mobil listrik.

“Karena dengan banyak pertimbangan, dengan harus pasang SPKLU lagi, harga jual kembalinya. Mereka ‘kan masih memikirkan itu; beli mobil, harga jual nantinya berapa,” cetusnya.

Oleh karenanya, berdasarkan riset ID Comm ini, adopsi mobil listrik masih didominasi oleh masyarakat urban kelas menengah atas, yang telah memiliki mobil berbasis internal combustion engine (ICE), dan membeli mobil listrik sebagai mobil kedua, serta tak memandangnya sebagai aset investasi.

Claudius mengatakan, kondisi itu tak bisa dipisahkan dari rendahnya daya beli mayoritas masyarakat Indonesia.

“Jika kita mau buat mobil listrik makin grow, mobil listrik yang sekarang Rp190 juta itu harus dianggap sebagai disposable, yang dibuang saja. Otomatis berarti kalau Rp200 juta disposable, daya beli mereka harus di atas itu dong,” paparnya.

“Karena mereka sudah tidak memikirkan, ‘oh mobilnya harus saya jual lagi’, segala macam. Otomatis daya beli kita yang saat ini masih di Rp200 juta harus di Rp250-300 juta,” sambungnya.

Baca juga: Alasan Pentingnya Punya Asuransi Mobil Listrik

Di satu sisi, mindset seperti ini seharusnya ditinggalkan. Mengingat, biaya operasional mobil listrik yang jauh lebih hemat ketimbang mobil berbahan bakar bensin atau solar. Ia kemudian mengkhawatirkan terjadinya stagnasi dalam pangsa penjualan mobil listrik di Indonesia.

“Satu tahun, dua tahun lagi ini sudah sampai puncak, orang yang memakai mobil listrik sudah mulai (jenuh), ‘sudah ‘lah, sudah sempat pakai’, gantinya tetap mobil listrik lagi, tapi pasarnya tak tambah besar. Sustainable yes, tapi tidak bertambah besar,” ungkap Claudius.

Ia menegaskan, pemerintah harus bisa merancang kebijakan yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat, seperti subsidi, keringanan PPN, dan lainnya. Jika tidak, maka pangsa penjualan mobil di Indonesia akan berada di titik jenuh.

“Karena mobil itu saat ini bukan prioritas utama, khususnya mobil baru. Daripada beli mobil baru, mereka akan beli mobil bekas. Pasar mobil bekas yang akan naik. Tapi, ya kita lihat saja. Tidak ada yang tahu masa depan,” pungkas Claudius. (*) Steven Widjaja

Yulian Saputra

Recent Posts

OJK Kembali Gelar Pertemuan dengan Lender Dana Syariah Indonesia, Ini Hasilnya

Poin Penting OJK menggelar pertemuan kedua dengan lender DSI untuk membahas pengembalian dana yang tertunda… Read More

7 hours ago

Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Transaksi Sertifikasi Halal Online

Poin Penting Transaksi sertifikasi halal online melalui Bank Muamalat meningkat lebih dari 50% YoY, dengan… Read More

8 hours ago

Insiden Kapal Labuan Bajo, DPR Soroti Lemahnya Pengawasan dan Mitigasi Cuaca

Poin Penting DPR soroti lemahnya pengawasan kapal wisata Labuan Bajo; status laik laut administratif tidak… Read More

8 hours ago

Menkop Ferry Luncurkan 10 Gerai Obat Kopdes Merah Putih Lewat Kemitraan BUMN dan Swasta

Poin Penting Menkop Ferry Juliantono meresmikan 10 gerai percontohan Obat Kopdeskel Merah Putih untuk meningkatkan… Read More

9 hours ago

Profil Dirut Baru Jasa Raharja Muhammad Awaluddin dan Rekam Jejak Kariernya

Poin Penting Muhammad Awaluddin ditetapkan sebagai Direktur Utama Jasa Raharja melalui RUPSLB pada 31 Desember… Read More

11 hours ago

Harga BBM di Pertamina, Shell, BP, Vivo Kompak Turun per 1 Januari 2026, Ini Rinciannya

Poin Penting Harga BBM non-subsidi turun serentak di Pertamina, Shell, BP, dan Vivo mulai 1… Read More

12 hours ago