Moneter dan Fiskal

BI Ungkap Muncul Fenomena Masyarakat Terpaksa Kerja dengan Upah kecil

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa terjadi fenomena pergeseran tenaga kerja di berbagai daerah yang berkerja di sektor dengan tingkat upah rendah.

Deputi Gubernur BI Doni P. Joewono menjelaskan hal itu terkuak dari hasil asesmen di 46 kantor cabang BI perwakilan daerah yang melakukan kajian terhadap ekonomi dan keuangan daerah setiap tiga bulan.

“Perekonomian di daerah dihadapkan pada tantangan pergeseran tenaga kerja ke sektor dengan tingkat upah yang lebih rendah,” ucap Doni dalam Konferensi Pers RDG, dikutip, Jumat 18 Oktober 2024.

Baca juga: BI: Kegiatan Dunia Usaha Melambat di Triwulan III 2024

Doni mengatakan fenomena itu seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang terjaga. Dengan penopang laju pertumbuhan ekonomi daerah yang mengandalkan belanja pemerintah daerah, ditambah dengan adanya Pilkada.

Lebih lanjut, tambah Doni, pergeseran tenaga kerja tersebut disebabkan karena belum optimalnya penyerapan tenaga kerja sektor padat karya. Meski, sektor perdagangan serta akomodasi makan dan minuman sudah mulai pulih pasca pandemi.

“Namun sektor padat karaya utamanya pertanian dan manufaktur itu cukup tertekan di daerah, terutama aspek produktivitas menjadi isu utama,” ungkapnya.

Mengantisipasi hal tersebut, BI akan memperluas sektor usaha dari Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2025.

Di kesempatan yang sama, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI akan memperkuat insentif KLM untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan pada sektor usaha yang mendukung penciptaan lapangan kerja.

“Kita dalam tahap finalisasi (insentif KLM), akan mulai rencananya diberlakukan mulai 1 Januari 2025 akan datang,” kata Perry.

Baca juga: BI Berhasil Serap Modal Asing Melalui SRBI Capai Rp934,87 Triliun

Perry membeberkan sejumlah sektor yang akan mendapatkan insentif KLM tersebut di antaranya, sektor perdagangan, eceran, pertanian dan industri pengolahan padat karya, yang akan menyerap 50 persen pangsa tenaga kerja.

Disusul dengan sektor transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif, yang akan menyerap 20 persen pangsa tenaga kerja.

“Kalau bank-bank menyalurkan ke sektor-sektor itu, sektor itu akan tumbuh dan mencipatkan lapangan kerja. Kalau lapangan kerja naik tentu saja upahnya naik, pendapatan masyarakat naik, belanjanya naik, ekonominya naik,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Bank OCBC NISP Mau Buyback Saham Rp1 Miliar, Ini Tujuannya

Poin Penting Bank OCBC NISP rencanakan buyback saham Rp1 miliar untuk remunerasi variabel manajemen dan… Read More

12 mins ago

BGN Janji Tindaklanjuti Menu MBG Ramadan yang Melenceng dari Anggaran

Poin Penting BGN siap menindaklanjuti laporan masyarakat terkait polemik menu MBG Ramadan. Anggaran bahan baku MBG ditetapkan Rp8.000–Rp10.000 per… Read More

16 mins ago

Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Januari 2026 Anjlok 14 Persen

Poin Penting Penerimaan kepabeanan dan cukai Januari 2026 tercatat Rp22,6 triliun (6,7 persen pagu APBN),… Read More

28 mins ago

KSPN Kritik Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India untuk Kopdes Merah Putih

Poin Penting Presiden KSPN Ristadi meminta Presiden Prabowo membatalkan rencana impor 105 ribu kendaraan untuk… Read More

38 mins ago

Insentif Ramadan-Lebaran Rp12,8 Triliun, DPR: Jangan Sekadar Stimulus Musiman

Poin Penting Pemerintah gelontorkan insentif Ramadan–Lebaran Rp12,8 triliun untuk jaga daya beli dan dorong konsumsi.… Read More

42 mins ago

Allo Bank Kantongi Laba Rp574 Miliar di 2025, Tumbuh 23 Persen

Poin Penting Allo Bank membukukan laba bersih Rp574 miliar pada 2025, naik 23 persen yoy,… Read More

56 mins ago