Moneter dan Fiskal

BI Tetap Siaga di Pasar Jaga Rupiah selama Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri

Poin Penting

  • BI tetap siaga memantau rupiah selama libur Lebaran, termasuk melalui pasar offshore meski pasar domestik tutup.
  • BI bekerja sama dengan BI New York untuk memonitor dan siap melakukan intervensi di pasar NDF global jika diperlukan.
  • Penggunaan transaksi mata uang lokal (LCT) diperkuat, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menjaga stabilitas rupiah.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) memastikan tetap aktif di pasar meski pasar keuangan domestik libur selama sepekan dalam rangka Nyepi dan Idul Fitri 2026. Pemantauan dilakukan melalui pergerakan nilai tukar di pasar offshore.

“Jadi kita pastikan Bank Indonesia tetap berada di pasar, tidak hanya dalam negeri, tapi juga around the clock, around the world, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam RDG, Selasa 17 Maret 2026.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, selama libur panjang BI akan bekerja sama dengan BI New York untuk memantau pergerakan rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF).

Baca juga: Dampak Perang Timur Tengah, BI Tarik Sinyal Penurunan Suku Bunga

Menurutnya, langkah ini penting agar BI dapat bergerak cepat melakukan intervensi di pasar uang jika diperlukan.

“Walaupun kita Lebaran libur, tapi kami di BI akan terus bekerja sama dengan BI New York terus melakukan pemantauan dan memang juga kami seandainya dibutuhkan juga kami akan masuk ke market untuk melakukan intervensi di pasar NDF global,” ungkap Desty.

Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal

Sebagai langkah antisipatif, BI akan terus memperkuat penggunaan local currency transaction (LCT). Salah satu pasar yang terus diperdalam yaitu yuan China, baik CNH maupun CNY.

“Ini yang terus kita lakukan sehingga bagi mereka yang akan melakukan transaksi, mereka tidak perlu lagi membeli dolar dulu, tapi mereka bisa (langsung) melakukannya di pasar domestik,” ujarnya.

Baca juga: Imbas Perang Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Maret 2026

Langkah menggunakan mata uang lokal untuk transaksi lintas negara, berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik. HIngga Februari 2026, transaksi LCT mencapai USD4,1 miliar. Transaksi terbesar LCT terjadi dengan China yang sebesar USD3 miliar per bulan.

“Artinya kebutuhan terhadap mata uang lain selain dolar AS itu semakin meningkat di Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Dampak Perang Timur Tengah, BI Tarik Sinyal Penurunan Suku Bunga

Poin Penting BI tidak lagi memberi sinyal penurunan suku bunga akibat meningkatnya risiko global dari… Read More

2 hours ago

BSN Jalin Kerja Sama dengan Ekosistem Properti Syariah Indonesia

Kerjasama ini juga membuka ruang bagi pengembangan bisnis terutama inisiatf mendukung program pemerintah dalam pengembangan… Read More

2 hours ago

Porsi Pembiayaan Meningkat, Maybank Indonesia Perkuat Pembiayaan SME Syariah

Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk memperkuat pembiayaan SME syariah sebagai pilar utama pengembangan… Read More

4 hours ago

Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri, Tarif LRT Jabodebek Dipatok Maksimal Rp10.000

Poin Penting PT Kereta Api Indonesia (Persero) menetapkan tarif maksimal LRT Jabodebek sebesar Rp10.000 selama… Read More

4 hours ago

Wacana Pemotongan Gaji Pejabat Diminta jadi Gerakan Disiplin Fiskal Nasional

Poin Penting Anggota Komisi II DPR RI Ali Ahmad menilai wacana pemotongan gaji pejabat yang… Read More

4 hours ago

Bank Maspion Kantongi ‘Dana Segar’ USD285 Juta dari KBank, Perkuat Likuiditas Kredit

Poin Penting PT Bank Maspion Indonesia Tbk memperoleh fasilitas pinjaman USD285 juta dari KASIKORNBANK Public… Read More

4 hours ago