Poin Penting
- BI memperkirakan penjualan eceran Mei 2026 membaik, dengan kontraksi tahunan menyempit menjadi 3,2 persen
- Penjualan ritel ditopang kenaikan permintaan suku cadang, perlengkapan rumah tangga, dan barang lainnya
- Secara bulanan, kontraksi penjualan eceran melandai menjadi 0,9 persen berkat momentum hari besar keagamaan.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan tetap terjaga. Ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 diprakirakan sebesar 225,0, atau tercatat sebesar -3,2 persen (yoy), sedikit lebih baik dari periode sebelumnya yang tercatat sebesar -3,7 persen (yoy).
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran edisi April 2026 yang diterbitkan BI, kinerja penjualan tersebut ditopang oleh peningkatan kinerja penjualan kelompok suku cadang dan aksesori dengan indeks 157,5 tumbuh 16,6 persen (yoy), kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya indeks 84,5, tumbuh 1,8 persen (yoy), dan kelompok barang lainnya indeks 85,0, tumbuh 0,7 persen (yoy).
Sementara itu, penjualan kelompok lainnya diprakirakan masih berada pada fase kontraksi, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan indeks 318,4, atau terkontraksi 4,0 persen (yoy), kelompok bahan bakar kendaraan bermotor indeks 104,2, terkontraksi 2,2 persen (yoy), serta kelompok peralatan informasi dan komunikasi indeks 69,5, atau -17,5 persen (yoy).
Baca juga: Survei BI: Indeks Keyakinan Konsumen Turun jadi 120,9 pada Mei 2026
Sedangkan secara bulanan, kinerja penjualan eceran juga diprakirakan mencatatkan perbaikan dari -11,6 persen (mtm) pada April 2026 menjadi -0,9 persen (mtm) pada Mei 2026.
Perbaikan tersebut didorong oleh beberapa kelompok yang mengalami peningkatan antara lain kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 2,2 persen (mtm) dan 2,0 persen (mtm). Ini meningkat dari sebelumnya berada di zona kontraksi dengan masing-masing tercatat sebesar -9,4 persen (mtm) dan -5,9 persen (mtm).
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode HBKN Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak,” dikutip dari Survei Penjualan Eceran edisi April 2026.
Sementara pada April 2026, IPR tercatat sebesar 226,9. Kinerja tersebut didorong oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang budaya dan rekreasi.
Baca juga: Apindo: Biaya Logistik Mahal dan Kepastian Hukum jadi Penghambat Iklim Investasi
Adapun secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 tercatat terkontraksi 11,6 persen (mtm), sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026, diprakirakan relatif stabil, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026, diprakirakan meningkat.
Hal tersebut tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 sebesar 175,8, relatif stabil dibandingkan IEH pada Juni 2026 sebesar 175,6.
Sementara IEH Oktober 2026 diprakirakan sebesar 167,6, lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 sebesar 163,2 didorong oleh kenaikan harga bahan baku. (*)
Editor: Galih Pratama


