Ilustrasi: BI proyeksikan penjualan eceran di Februari 2026 meningkat. (Foto: Istimewa)
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran diprakirakan meningkat. Pada Juli 2025 Indeks Penjualan Riil (IPR) diprakirakan tumbuh sebesar 4,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,3 persen, sehingga mencapai level 222,5.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Juli 2025 yang diterbitkan BI, Peningkatan tersebut terutama bersumber dari kelompok suku cadang dan aksesori sebesar 7,5 persen, makanan, minuman, dan tembakau 6,2 persen, serta bahan bakar kendaraan bermotor 13,2 persen.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2025 diprakirakan mencatat kontraksi sebesar 4,0 persen (month-to-month/mtm), dipengaruhi oleh penurunan penjualan kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta makanan, minuman, dan tembakau. Masing-masing sebesar 6,4 persen dan 5 persen, seiring dengan berakhirnya periode libur dan cuti bersama dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
Baca juga: Pembiayaan Berkelanjutan BNI Capai Rp185,2 Triliun di Juni 2025
Sementara, pada Juni 2025, IPR tercatat sebesar 231,9 atau tumbuh sebesar 1,3 persen yoy, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2025 sebesar 1,9 persen yoy. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kinerja penjualan kelompok bahan bakar kendaraan bermotor tumbuh sebesar 12,1 persen, makanan, minuman, dan tembakau 2,4 persen, barang budaya dan rekreasi 1,5 persen, dan subkelompok sandang 1,4 persen.
Kinerja penjualan beberapa kelompok barang yang terkait dengan kegiatan libur dan cuti bersama HBKN serta libur sekolah tersebut menopang kinerja Juni 2025 menjadi lebih baik dari bulan sebelumnya.
Hal itu tecermin dari penjualan eceran pada Juni 2025 yang secara bulanan mencatat kontraksi sebesar 0,2 persen mtm, lebih kecil dibandingkan dengan kontraksi sebesar 1,3 persen mtm pada Mei 2025.
Baca juga: BNI Pastikan Aktivasi Rekening Dormant Gratis
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu pada September, 2025 diprakirakan menurun, sementara tekanan inflasi pada enam bulan mendatang, yaitu pada Desember 2025, diprakirakan meningkat.
Hal tersebut tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2025 sebesar 134,7, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 139,6.
Sementara itu, IEH Desember 2025 tercatat sebesar 163,4, lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 151,3. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting MR.DIY Indonesia menargetkan pembukaan sekitar 270 toko baru pada 2026. Ekspansi didukung arus… Read More
Poin Penting Ekonom Permata Bank menilai geopolitik dan pasar global menjadi tantangan ekonomi 2026. Konflik… Read More
Poin Penting Jasindo masih memverifikasi kerusakan aset akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Nilai kerugian… Read More
Poin Penting Ekonom Permata menilai kepemimpinan baru OJK diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Transformasi integritas… Read More
Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengadakan ICDX… Read More
Poin Penting KPK resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait kasus kuota haji.… Read More