Dia mengungkapkan, momentum perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga seiring dengan kondisi pasar keuangan yang relatif stabil. Pasca Trump effect, pihaknya tidak lagi melihat adanya volatility yang terlalu keras di pasar keuangan.
“Jadi artinya kalau pasar keuangan normal-normal saja artinya ya bisnis bisa melakukan aktivitasnya kan, bisa melakukan proyeksi, aktivitas usaha kemudian mengambil kredit di 2017,” ucap Mirza.
Kendati demikian,Indonesia tidak bisa lepas dari negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia seperti Amerika Serikat (AS) dan China. Di mana kondisi harga komoditas yang masih rendah telah mempengaruhi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kita tidak bisa lepas dari ekonomi terbesar di dunia seperti Amerika dan China begitu ya, karena harga komoditas banyak bergantung dari internasional. Ekspor kita kan juga bergantung dari internasional,” tutupnya. (*)
(Baca juga: Jokowi Ingin Pertumbuhan Ekonomi Mencapai di Atas 6%)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,26 persen ke level 6.971,02. Mayoritas sektor melemah, dipimpin sektor… Read More
Poin Penting: Trump mengeklaim AS mampu menghancurkan Iran dalam satu malam dan menyebut kemungkinan beraksi… Read More
Poin Penting Wacana pemotongan gaji menteri dan DPR masih dalam pembahasan. Menteri Keuangan Purbaya memperkirakan… Read More
Poin Penting Trisula Textile Industries mencatat laba bersih Rp12,57 miliar pada 2025, naik 9 persen… Read More
Poin Penting Kemenkop dan BPJS Kesehatan teken MoU untuk perluas layanan kesehatan di desa. Kopdes… Read More
Poin Penting Bank Aladin Syariah berbalik dari rugi Rp73,73 miliar (2024) menjadi laba Rp150,71 miliar… Read More