Moneter dan Fiskal

BI: Penjualan Eceran Diperkirakan Tetap Tumbuh pada Desember 2025

Poin Penting

  • IPR Desember 2025 diperkirakan tumbuh 4,4% (yoy), ditopang konsumsi Natal dan Tahun Baru.
  • Penjualan eceran naik 4,0% (mtm), terutama dari sektor TIK dan konsumsi rumah tangga.
  • Prospek jangka menengah membaik, meski tekanan inflasi diperkirakan naik jelang Ramadan.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai kinerja penjual eceran pada Desember 2025 diperkirakan tetap tumbuh secara tahunan dan meningkat secara bulanan. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diprakirakan sebesar 231,7 atau tumbuh 4,4 persen (yoy), meski lebih rendah dibandingkan 6,3 persen (yoy) pada November 2025.

Berdasarkan Survei Penjualan Eceran yang diterbitkan BI, Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kelompok suku cadang dan aksesori (12,4 persen yoy), makanan, minuman, dan tembakau (6,9 persen yoy), barang budaya dan rekreasi, (3,5 persen yoy), serta bahan bakar kendaraan bermotor (0,2 persen yoy).

Secara bulanan, IPR Desember 2025 tumbuh sebesar 4,0 persen (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,5 persen (mtm).

Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama peralatan informasi dan komunikasi (13,9 persen mtm), diikuti barang budaya dan rekreasi (3,5 persen mtm), perlengkapan rumah tangga lainnya (3,6 persen mtm), serta makanan, minuman, dan tembakau (3,7 persen mtm).

“Seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat pada saat HBKN Natal dan Tahun Baru yang didukung oleh kelancaran distribusi,” tulis laporan tersebut, Senin, 12 Januari 2026.

Baca juga: BPS Catat Kenaikan Harga Beras dari Penggilingan hingga Eceran

Ekspektasi Penjualan

Selain itu, responden memprakirakan penjualan eceran menurun dalam tiga bulan mendatang, namun meningkat dalam enam bulan mendatang.

Hal itu tecermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Februari 2026 tercatat sebesar 143,2, menurun dari 157,2 pada periode sebelumnya akibat faktor musiman, yaitu jumlah hari yang lebih sedikit.

Baca juga: Saham Emiten Rokok Kompak “Ngebul” Usai Purbaya Tak Naikkan Cukai dan Harga Eceran di 2026

Meski demikian, IEP Februari 2026 lebih tinggi dibandingkan IEP periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 127,7 yang dipengaruhi oleh momentum Ramadan 1447 H.

Sementara itu, IEP pada Mei 2026 tercatat sebesar 145,0, sedikit meningkat dibandingkan periode sebelumnya sebesar 144,8, didorong oleh kenaikan permintaan dalam rangka serangkaian HBKN, antara lain Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.

Tekanan Inflasi Diprakirakan Naik Jelang Ramadan

Dari sisi harga, tekanan inflasi dalam tiga bulan mendatang, yakni Februari 2026, diprakirakan meningkat, sementara pada enam bulan mendatang atau Mei 2026 diprakirakan menurun.

Kondisi tersebut tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 yang tercatat sebesar 168,6, lebih tinggi dibandingkan 163,2 pada periode sebelumnya, didorong oleh ekspektasi kenaikan harga menjelang Ramadan 1447 H.

Sementara itu, IEH Mei 2026 turun dari sebelumnya 161,7 menjadi 154,8.

Baca juga: Survei BI: Penjualan Eceran Diperkirakan Tumbuh 5,9 Persen Jelang Nataru

Adapun pada November 2025 mengindikasikan kinerja penjualan eceran meningkat baik secara bulanan maupun tahunan. Kondisi ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) November 2025 yang tercatat sebesar 222,9 atau secara tahunan tumbuh sebesar 6,3 persen (yoy), lebih tinggi dari 4,3 persen (yoy) pada Oktober 2025.

Seluruh kelompok komoditas mencatatkan kinerja yang lebih baik dengan pertumbuhan tertinggi pada kelompok suku cadang dan aksesori (17,7 persen yoy), diikuti makanan, minuman, dan tembakau (8,5 persen yoy), barang budaya dan rekreasi (8,1 persen yoy), serta bahan bakar kendaraan bermotor (0,8 persen yoy).

Secara bulanan, penjualan eceran pada November 2025 tumbuh sebesar 1,5 persen (mtm), meningkat dari 0,6 persen (mtm) pada Oktober 2025.

Mayoritas kelompok mencatat kenaikan, terutama peralatan informasi dan komunikasi (5,5 persen mtm), suku cadang dan aksesori (4,2 persen mtm), bahan bakar kendaraan bermotor (2,8 persen mtm), serta makanan, minuman, dan tembakau (1,2 persen mtm), seiring peningkatan permintaan masyarakat menjelang periode festive akhir tahun. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

Respons Cepat OJK Redam Kekhawatiran Pasar Pascapergantian Pimpinan

Poin Penting OJK memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga usai penunjukan Friderica Widyasari Dewi sebagai… Read More

1 hour ago

OJK Beberkan 8 Aksi Percepatan Reformasi Pasar Modal RI, Apa Saja?

Poin Penting OJK dan SRO akan menaikkan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi… Read More

3 hours ago

PWI Pusat Bakal Terima Hadiah Patung Tirto Adhi Soerjo dan Samin Surosentiko dari Blora

Poin Penting PWI Pusat akan menerima dua patung tokoh nasional—Tirto Adhi Soerjo dan Samin Surosentiko—karya… Read More

5 hours ago

DPR Pastikan Pengganti Pimpinan OJK-BEI Bebas Afiliasi Danantara dan BUMN

Poin Penting Pengisian pimpinan OJK dan BEI dipastikan independen, tidak berasal dari pihak terafiliasi Danantara,… Read More

5 hours ago

Kredit Macet, Bisnis Gagal atau Niat Jahat? OJK Harus Berada di Depan Bank

Oleh Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group KREDIT macet dalam perbankan bukan sekadar angka… Read More

17 hours ago

KPK Mencari “Pepesan Kosong” Dana Non Budgeter-Iklan Bank BJB, Terus Berputar-putar “Dikaitkan” Ridwan Kamil-Aura Kasih

Oleh Tim Infobank DI sebuah ruang pemeriksaan di Mapolda Jawa Barat, udara tak hanya berdebu… Read More

17 hours ago