Headline

BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Kredit Jadi 7-9%

Jakarta – Bank Indonesia (BI) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun 2017 menjadi pada kisaran 7-9 persen. Sebelumnya lagi BI juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan kredit dari kisaran 10-12 persen menjadi 8-10 persen di 2017.

Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Filianingsih Hendarta, di Jakarta, Rabu, 1 November 2017. Menurutnya, permintaan kredit yang masih rendah menjadi penyebab lambatnya pertumbuhan kredit.

“Pertumbuhan kredit sampai akhir tahun 7-9 persen yaa mudah-mudahan. Ini sudah diubah dari 8-10 persen sebelumnya, karena memang rendah banget sekarang,” ujarnya.

Sebelumnya di tempat yang sama Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto juga pesimis bahwa pertumbuhan kredit sampai dengan akhir tahun akan berada di bawah 10 persen. Padahal, berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit perbankan di September 2017 sudah mendekati angka double digit.

“Kita menduga pertumbuhan kreditnya akan lebih bias ke bawah. Kemungkinan kita bisa mencapai sekitar angka-angka pasti yakni di angka 10 persen ke bawah,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, masih lambatnya pertumbuhan kredit atau di bawah double digit secara rata-rata industri disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yakni perbankan saat ini masih tengah berbenah melakukan konsolidasi untuk menyehatkan rasio kredit bermasalahnya (NPL).

“Jadi kalau kita lihat kredit gak akan tumbuh terlalu cepat sekali, karena bagaimana jugakan kita tahu bahwa sekarang bank sedang konsolidasi. Terlebih, infrastruktur pemerintah juga sepenuhnya belum terpenuhi,” paparnya.

Asal tahu saja, penyaluran kredit pada September 2017 tercatat sebesar Rp4.569,9 triliun atau tumbuh 9,4 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,4% (yoy). Peningkatan pertumbuhan kredit perbankan terjadi pada seluruh jenis penggunaannya.

Penyaluran Kredit Modal Kerja (KMK) pada September 2017 tercatat sebesar Rp1.123 triliun atau mengalami pertumbuhan 9,6 persen (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan di bulan sebelumnya yakni sebesar 7,3 persen (yoy).

Sejalan dengan hal tersebut, Kredit Investasi (KI) juga turut mengalami peningkatan pertumbuhan dari 6,8 persen (yoy) pada Agustus 2017 menjadi 7,1 persen (yoy). Demikian pula, kredit Konsumsi (KK) meningkat dari 10,2 persen (yoy) pada bulan Agustus 2017 menjadi 11 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp1.325,5 triliun. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Tingkatkan Kepercayaan Publik, Pramono Minta Bank Jakarta Segera IPO

Poin Penting Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong Bank Jakarta segera IPO karena dinilai dapat… Read More

7 mins ago

Awali 2026, Sinar Mas Multifinance Perkuat Identitas dengan Nama SIMASFIN

Poin Penting PT Sinar Mas Multifinance resmi mengusung identitas baru SIMASFIN untuk menyatukan berbagai nama… Read More

44 mins ago

Tetapkan Kurs Dividen Interim 2025, Pemegang Saham ADRO Bakal Kantongi Cuan Segini

Poin Penting ADRO menggunakan kurs tengah BI per 2 Januari 2026 sebesar Rp16.720 per dolar… Read More

1 hour ago

Adira Finance Siap Gelar RUPSLB Akhir Januari 2026, Intip Agendanya

Poin Penting Adira Finance akan menggelar RUPSLB pada 27 Januari 2026 dengan recording date 2… Read More

1 hour ago

Daftar 10 Negara Pemilik Cadangan Emas Terbesar di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

Poin Penting Emas tetap krusial bagi ketahanan ekonomi negara, berfungsi sebagai pelindung nilai dari inflasi,… Read More

2 hours ago

Airlangga: Dampak Konflik AS-Venezuela Belum Pengaruhi Harga Minyak

Poin Penting Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai konflik geopolitik AS–Venezuela berpotensi mendorong kenaikan harga minyak… Read More

2 hours ago