Moneter dan Fiskal

BI Optimistis Ekonomi RI 2026 Tembus 5,7 Persen

Poin Penting

  • BI optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan berada di kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026
  • Konsumsi rumah tangga kian solid ditopang belanja sosial dan meningkatnya keyakinan masyarakat, sementara investasi nonbangunan mulai pulih seiring membaiknya PMI manufaktur.
  • Ekspor berpotensi melambat akibat faktor global, sehingga penguatan permintaan domestik dan kinerja sektor utama menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) optimistis perekonomian nasional akan terus menguat tahun depan. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai level tertinggi 5,7 persen.

Menurutnya, hal ini seiring membaiknya permintaan domestik dan sinergi kebijakan moneter dengan stimulus fiskal Pemerintah.

“Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan berada dalam kisaran 4,7–5,5 persen dan meningkat menjadi 4,9–5,7 persen pada 2026,” ujarnya dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (17/12).

Baca juga: BI Perpanjang Keringanan Tagihan Kartu Kredit hingga 30 Juni 2026

Optimisme tersebut ditopang oleh perbaikan konsumsi rumah tangga yang kian solid, khususnya pada triwulan IV 2025. BI mencatat belanja sosial pemerintah serta meningkatnya keyakinan masyarakat terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja menjadi motor utama penguatan konsumsi. Dampaknya terlihat pada penjualan eceran yang meningkat di berbagai kelompok barang.

Di sisi investasi, Perry menegaskan adanya sinyal pemulihan yang semakin jelas, terutama pada investasi nonbangunan.

“Keyakinan pelaku usaha terus membaik, tercermin dari pola ekspansi Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur,” imbuhnya.

Kondisi ini menunjukkan dunia usaha mulai kembali agresif dalam melakukan ekspansi. Meski demikian, BI mengingatkan adanya tantangan dari sisi eksternal.

Kinerja ekspor diprakirakan melambat seiring berakhirnya frontloading ekspor ke Amerika Serikat, serta penurunan ekspor besi dan baja ke Tiongkok dan minyak kelapa sawit (CPO) ke India. Karena itu, penguatan permintaan domestik menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Baca juga: Hitungan Ekonom BCA Kerugian Ekonomi Akibat Bencana Sumatra

Dari sisi sektoral, sejumlah lapangan usaha utama menunjukkan kinerja yang tetap positif. Industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Ke depan, Perry menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan dan stabilitas.

“Berbagai upaya perlu terus ditempuh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dengan tetap menjaga stabilitas,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Ketidakpastian Hukum di Sektor Keuangan: Ketika Risiko Dikriminalisasi dan Harga Dianggap Kartel

Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More

7 hours ago

Cetak SDM Unggul, BSN Gandeng Universitas Terbuka

Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More

8 hours ago

CIMB Niaga Raih Penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026

Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More

10 hours ago

Konsistensi Fundamental, Tugu Insurance Catat Laba Rp711 Miliar di 2025

Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More

14 hours ago

ICEx Resmi Meluncur, Bangun Infrastruktur Bursa Kripto RI Berstandar Global

Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More

18 hours ago

Melonjak 96 Persen, Transaksi di ICDX Tembus Rp12.477 T pada Kuartal I 2026

Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More

19 hours ago