Moneter dan Fiskal

BI Optimistis Ekonomi Kuartal I 2026 Tetap Tinggi, Ini Pendorongnya

Poin Penting

  • BI proyeksikan ekonomi kuartal I 2026 tetap tinggi, didorong konsumsi rumah tangga, stimulus moneter, dan stimulus fiskal pemerintah.
  • Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Imlek, Nyepi, dan Idulfitri 1447 H ikut meningkatkan aktivitas ekonomi dan belanja masyarakat.
  • Investasi diperkirakan tumbuh lebih kuat, ditopang investasi pemerintah, program hilirisasi SDA, serta sinergi BI–pemerintah dalam menjaga likuiditas dan stabilitas rupiah.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tetap tinggi. Optimisme tersebut didukung stimulus pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter, serta momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

“Pertumbuhan ekonomi akan tetap tinggi pada triwulan I (2026), ini dan tentu saja kami perkirakan itu juga akan tetap tinggi dan juga akan mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis 19 Februari 2026.

Baca juga: Tok! BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

Perry menjelaskan, konsumsi rumah tangga meningkat seiring berbagai program stimulus pemerintah, pelonggaran moneter, serta membaiknya ekspektasi konsumen. Aktivitas ekonomi juga terdorong momentum HBKN pada kuartal I 2026 seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idulfitri 1447 H.

“Tentu saja stimulus moneter yang terus dilakukan oleh BI, suku bunga maupun ekspansi likuiditas. Dan ketiga adalah stimulus dari fiskal, dari pemerintah,” jelasnya.

Investasi dan Sinergi BI-Pemerintah

Selain itu, investasi juga diprakirakan tumbuh lebih tinggi didorong oleh investasi pemerintah, termasuk hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), serta perbaikan keyakinan pelaku usaha yang masih berlanjut. 

“Realisasi dari program-program pemerintah, baik program-program untuk kesejahteraan dan pembangunan manusia seperti MBG, KDMP maupun yang lain, maupun juga program-program untuk mendorong sektor riil, hiliriisasi dari Danantara maupun yang lain yang akan mendorong investasi,” ungkapnya.

Baca juga: BI Catat Kredit Perbankan Januari 2026 Tumbuh 9,96 Persen

Perry menyebut, BI akan terus berkoordinasi dan berisnergi erat dengan pemerintah guna memastikan likuidtas cukup di pasar keuangan dan perbankan.

“Bagaimana sama-sama itu mendorong di sektor riil, baik melalui stimulus fiskal maupun dari kami dari berbagai insentif likuiditas maupun dari dukungan likuiditas. Dan juga sama-sama juga bagaimana menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” papar Perry. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Pengumuman! Mulai 1 April 2026, Beli BBM Subsidi Dibatasi 50 Liter per Hari

Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More

7 hours ago

Laba Bank Mega Tumbuh 28 Persen pada 2025

Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More

8 hours ago

Refocusing Anggaran, Pemerintah Klaim Bisa Hemat Rp130 Triliun

Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More

8 hours ago

Penyaluran MBG Dipangkas, Potensi Hemat Bisa Tembus Rp20 Triliun

Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More

8 hours ago

KB Bank Bidik Pembiayaan Wholesale Tumbuh 70 Persen di 2026, Begini Strateginya

Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More

9 hours ago

Airlangga Klaim Penerapan WFH Bisa Hemat APBN Rp6,2 Triliun

Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More

9 hours ago