BI: Likuiditas Bank Cukup, Tapi Belum Mengalir ke Sektor Riil

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, langkah pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing yang telah dilakukan BI sudah mencukupi likuiditas perbankan, namun belum mampu sepenuhnya mengalir dan menggerakkan sektor riil seperti yang diharapkan.

Oleh karena itu, pihaknya terus berkomunikasi dengan Pemerintah sehingga stimulus fiskal dapat dijalankan dengan tepat dan sesuai sasaran dengan tujuan untuk menumbuhkan konsumsi masyarakat, menopang keberlangsungan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan dunia usaha lainnya.

“Kuantitaif easing yang jumlahnya hampir Rp300 triliun sejak awal tahun itu berarti likuiditas di perbankan itu lebih dari cukup. Tapi pertanyaannya kenapa belum mengalir ke sektor riil. Di sinilah peran stimulus fiskal,” kata Perry saat melakukan rapat kerja virtual dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu 8 April 2020.

Sebelumnya, BI juga telah melakukan langkah Quantitative Easing, yakni dengan menyuntikan likuiditas di pasar uang sebesar Rp300 trilun dan menurunkan suku buga acuan hingga ke level 4,50 persen.

Perry bahkan menyebut , pihaknya siap menggelontorkan kebijakan pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing kembali bilamana diperlukan guma menjaga likuiditas perbankan dan sektor jasa keuangan. “Kalo perlu tambah likuiditas kami siap Quantitative Easing lagi baik operasi moneter baik GWM dan langkah lain,” tambah Perry.

Sebelumnya, pemerintah sendiri telah menggelontorkan dana Rp405,1 triliun untuk penanganan COVID-19 yang tertuang dalam Perpu no. 1 Tahun 2020. Dari angka tersebut terbagi dari beberapa segmen terdiri dari Rp75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp110 triliun untuk Social Safety Net, Rp70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR, serta Rp150 triliun dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional. (*)

Editor: Rezkiana Np

Suheriadi

Recent Posts

Purbaya Tarik Dana Rp75 Triliun dari Himbara, OJK Pastikan Likuiditas Aman

Poin Penting OJK menilai penarikan dana SAL Rp75 triliun dari Bank Himbara tidak berdampak signifikan… Read More

9 mins ago

OJK Ungkap Ada 29 Asuransi Belum Penuhi Modal Minimum 2026

Poin Penting Hingga November 2025, baru 115 dari 144 perusahaan asuransi dan reasuransi (79,86%) yang… Read More

22 mins ago

Digital Realty Gandeng APJATEL Percepat Konektivitas Digital Indonesia

Poin Penting Digital Realty Bersama menjalin kemitraan dengan APJATEL untuk mempercepat penguatan konektivitas dan ekosistem… Read More

38 mins ago

Menimbang Prospek Perekonomian Global 2026

Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom Senior & Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia MESKIPUN pada awalnya… Read More

40 mins ago

Aset Asuransi Non Komersial Turun Jadi Rp222,84 Triliun di November 2025

Poin Penting Aset asuransi non komersial terkontraksi 0,23 persen yoy per November 2025 menjadi Rp222,84… Read More

54 mins ago

Di Tengah Tech Winter, Kinerja Industri Modal Ventura Tetap Impresif, Ini Buktinya

Poin Penting Laba industri modal ventura melonjak 150,78% yoy menjadi Rp579,77 miliar per November 2025,… Read More

1 hour ago