Poin Penting
Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan pertumbuhan kredit belum mencapai pada level yang optimal. Hal ini disebabkan oleh adanya gap yang tinggi antara kredit dan likuiditas perbankan.
Destry menjelaskan bahwa sebenarnya likuiditas perbankan untuk menyalurkan kredit sangat mencukupi, namun permasalahannya berada pada sisi permintaan yang masih lesu.
Berdasarkan data BI, penyaluran kredit pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp8.416,4 triliun atau tumbuh 10,2 persen year on year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 9,3 persen yoy.
Baca juga: OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen
“Dalam kredit perbankan, di mana credit gap juga masih terjadi, karena artinya walaupun likuiditas bank banyak, tapi memang pertumbuhan kredit itu belum mencapai pada level yang optimal,” ujar Destry dalam peluncuran buku kajian stabilitas keuangan No. 46, Jumat, 27 Februari 2026.
Untuk memperkecil gap, kata Destry, BI mendorong melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Dalam kebijakan ini, perbankan berpeluang mendapatkan potongan giro wajib minimum (GWM) 4,5 persen jika menyalurkan kredit/pembiayaan kepada sektor tertentu (lending channel) dan 1 persen apabila bank menyesuaikan suku bunga kredit/pembiayaan sejalan dengan suku bunga kebijakan BI (interest rate channel)
Sehingga, perbankan bisa mendapatkan potongan kewajiban penempatam GWM di BI dengan total hingga 5,5 persen dari normalnya sebesar 9 persen.
“Jadi artinya bank-bank yang sebenarnya dalam kondisi normal dia harus menempatkan pendananya sebagai GWM sebesar 9 persen, tapi karena bank-bank tersebut menyalurkan pada sektor-sektor prioritas termasuk sektor inklusi, maka GWM-nya mereka efektif itu sebenarnya tinggal 3,5 persen. Nah, jadi artinya yang 5,5 persen itu kembali kepada bank,” ungkapnya.
Baca juga: OJK: Perpanjangan Penempatan Dana Rp200 T Pacu Kredit Tumbuh hingga 12 Persen
Adapun insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama Februari 2026 adalah sebesar Rp427,5 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp357,9 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,6 triliun.
“Di mana sejak diberlakukan dua tahun terakhir KLM kita, per Februari ini sebenarnya sudah memberikan total insentif kepada bank hingga mencapai Rp427,5 triliun,” imbuhnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More
Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More
Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More
Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More