Moneter dan Fiskal

BI: Kredit Belum Optimal Meski Likuiditas Perbankan Sangat Memadai

Poin Penting

  • Pertumbuhan kredit per Januari 2026 mencapai Rp8.416,4 triliun atau tumbuh 10,2 persen yoy, namun dinilai belum optimal karena adanya gap tinggi antara likuiditas bank dan permintaan kredit
  • Likuiditas perbankan sebenarnya mencukupi, tetapi permintaan kredit masih lesu sehingga penyaluran belum maksimal
  • BI mendorong penyaluran kredit melalui insentif KLM berupa potongan GWM hingga 5,5 persen, dengan total insentif yang telah mencapai Rp427,5 triliun per Februari 2026.

Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan pertumbuhan kredit belum mencapai pada level yang optimal. Hal ini disebabkan oleh adanya gap yang tinggi antara kredit dan likuiditas perbankan.

Destry menjelaskan bahwa sebenarnya likuiditas perbankan untuk menyalurkan kredit sangat mencukupi, namun permasalahannya berada pada sisi permintaan yang masih lesu.

Berdasarkan data BI, penyaluran kredit pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp8.416,4 triliun atau tumbuh 10,2 persen year on year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 9,3 persen yoy.

Baca juga: OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen

“Dalam kredit perbankan, di mana credit gap juga masih terjadi, karena artinya walaupun likuiditas bank banyak, tapi memang pertumbuhan kredit itu belum mencapai pada level yang optimal,” ujar Destry dalam peluncuran buku kajian stabilitas keuangan No. 46, Jumat, 27 Februari 2026.

Upaya BI Menekan Gap Kredit

Untuk memperkecil gap, kata Destry, BI mendorong melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Dalam kebijakan ini, perbankan berpeluang mendapatkan potongan giro wajib minimum (GWM) 4,5 persen jika menyalurkan kredit/pembiayaan kepada sektor tertentu (lending channel) dan 1 persen apabila bank menyesuaikan suku bunga kredit/pembiayaan sejalan dengan suku bunga kebijakan BI (interest rate channel)

Sehingga, perbankan bisa mendapatkan potongan kewajiban penempatam GWM di BI dengan total hingga 5,5 persen dari normalnya sebesar 9 persen.

“Jadi artinya bank-bank yang sebenarnya dalam kondisi normal dia harus menempatkan pendananya sebagai GWM sebesar 9 persen, tapi karena bank-bank tersebut menyalurkan pada sektor-sektor prioritas termasuk sektor inklusi, maka GWM-nya mereka efektif itu sebenarnya tinggal 3,5 persen. Nah, jadi artinya yang 5,5 persen itu kembali kepada bank,” ungkapnya.

Baca juga: OJK: Perpanjangan Penempatan Dana Rp200 T Pacu Kredit Tumbuh hingga 12 Persen

Adapun insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama Februari 2026 adalah sebesar Rp427,5 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp357,9 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,6 triliun.

“Di mana sejak diberlakukan dua tahun terakhir KLM kita, per Februari ini sebenarnya sudah memberikan total insentif kepada bank hingga mencapai Rp427,5 triliun,” imbuhnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Transaksi MADINA Bank Muamalat Tembus Rp. 48 triliun pada akhir 2025.

Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More

2 hours ago

Sejak 1976, BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah

Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More

2 hours ago

ALTO Luncurkan ASKARA Connect dan Collab, Perkuat Pengelolaan Transaksi Digital

Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More

3 hours ago

BTN Targetkan Penyaluran KPR Capai 400 Ribu Unit per Tahun

Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More

3 hours ago

ALTO Network Proses 30 Juta Transaksi Harian, QRIS jadi Kontributor Terbesar

Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More

3 hours ago

RUPST OCBC Sepakat Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Buyback 438 Ribu Saham

Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More

6 hours ago