Moneter dan Fiskal

BI Klaim Inflasi 2,92 Persen Sepanjang 2025 Terjaga dalam Sasaran

Poin Penting

  • Inflasi IHK 2025 terkendali di level 2,92 persen (yoy), masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5±1 persen
  • Seluruh komponen inflasi terjaga, dengan inflasi inti 2,38 persen (yoy), volatile food 6,21 persen (yoy), dan administered prices 1,93 persen (yoy)
  • Inflasi Desember 2025 meningkat secara bulanan, dipicu kenaikan harga volatile food dan administered prices.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan data inflasi Indeks Harga Konsumen 2025 sebesar 2,92 persen tetap terjaga dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, tetap terjaganya inflasi dalam sasaran merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah (pusat dan daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

“Ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI dalam keterangannya, Selasa, 6 Januari 2025.

Baca juga: Inflasi RI Tembus 2,92 Persen Sepanjang 2025

Secara tahunan, kata Denny, inflasi IHK 2025 tetap berada dalam kisaran sasaran didukung oleh tetap terjaganya berbagai komponen inflasi.

Inflasi inti terjaga rendah sebesar 2,38 persen year on year (yoy), seiring konsistensi kebijakan suku bunga dalam menjangkar ekspektasi inflasi dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah BI, serta dampak positif dari digitalisasi.

Selain itu, inflasi volatile food relatif terkendali sebesar 6,21 persen (yoy), ditopang oleh upaya untuk terus menjaga ketersediaan pasokan pangan serta didukung eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan TPIP-TPID dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional di berbagai daerah.

“Sementara itu, inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 1,93 persen (yoy), sejalan dengan terbatasnya kebijakan penyesuaian harga yang diatur oleh pemerintah,” jelasnya.

Lebih lanjut, inflasi IHK secara bulanan pada Desember 2025 meningkat dibandingkan inflasi November 2025 sebesar 0,17 persen (mtm). Kenaikan inflasi terutama disumbang oleh kelompok volatile food dan administered prices, sedangkan inflasi inti relatif stabil.

Inflasi kelompok inti tercatat sebesar 0,20 persen (mtm), relatif stabil dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,17 persen (mtm), dengan inflasi terutama disumbang oleh komoditas emas perhiasan dan minyak goreng.

Selain itu, inflasi kelompok volatile food meningkat menjadi sebesar 2,74 persen (mtm), dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,02 persen (mtm), terutama disumbang oleh komoditas cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah dipengaruhi dampak gangguan cuaca, tingginya harga input produksi ternak, serta peningkatan permintaan pada Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru (HBKN Nataru).

Baca juga: Dampak Inflasi Emas, Ekonom Ingatkan Pemerintah Jaga Ekspektasi Pasar

Inflasi administered prices tercatat sebesar 0,37 persen (mtm), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,24 persen (mtm), terutama disumbang oleh komoditas bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota seiring kenaikan harga BBM nonsubsidi dan peningkatan mobilitas masyarakat pada periode HBKN Nataru.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Desember 2025 terjadi inflasi sebesar 0,64 persen secara bulanan (mtm) atau terjadi kenaikan IHK menjadi 109,92 dari 109,22 pada November 2025. Sedangkan, secara tahunan terjadi inflasi sebesar 2,92 persen yoy. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

RI dan Jepang Sepakat Kerja Sama Rp392,7 Triliun, Dorong Kemitraan Strategis

Poin Penting RI dan Jepang menandatangani 10 MoU dengan nilai total USD23,1 miliar (Rp392,7 triliun).… Read More

12 mins ago

Phishing Kian Marak, BRI Minta Nasabah Kenali Modus Link Palsu

Poin Penting BRI mengimbau masyarakat lebih berhati-hati terhadap maraknya penipuan digital, khususnya melalui link palsu… Read More

27 mins ago

Soal Praktik Mis-selling, Konsep Pertanggungjawaban Bersyarat Dinilai Lebih Adil bagi Industri Asuransi

Poin Penting Praktik mis-selling PAYDI/Unit Link masih menjadi penyumbang terbesar keluhan konsumen di industri asuransi… Read More

38 mins ago

Bank Jatim Raup Laba Rp1,61 Triliun di 2025, Tumbuh 24,80 Persen

Poin Penting Bank Jatim mencetak laba bersih Rp1,61 triliun pada 2025, naik 24,80 persen yoy,… Read More

50 mins ago

IHSG Sesi I Ditutup Berbalik Melemah ke 7.053

Poin Penting IHSG berbalik melemah atau ditutup turun 0,53 persen ke level 7.053,77 pada sesi… Read More

1 hour ago

BSI Optimistis Pengguna BYOND by BSI Tembus 10 Juta

Poin Penting Pengguna BYOND by BSI tumbuh 197 persen yoy sejak diluncurkan, mendorong total pengguna… Read More

2 hours ago