Jakarta– Bank Indonesia ( BI) terus mendorong potensi zakat untuk dapat berperan penting dalam membangun sistem ekonomi syariah nasional.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengungkapkan, potensi zakat di Indonesia sangat besar, terlebih masyarakat Indonesia didominasi oleh muslim terbesar.
“Potensi zakat sebenarnya dapat mencapai Rp210 triliun. Namun, penghimpunan zakat pada 2016 baru Rp5,2 triliun dan Rp6 triliun pada 2017,” ungkap Agus di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta, Rabu 24 Januari 2018.
Untuk mendorong potensi zakat tersebut, penerapan dokumen Zakat Core Principles perlu ditingkatkan agar standar pengelolaan zakat semakin baik.
Selain itu, aset tanah wakaf di Indonesia saat ini juga mencapai 4,3 miliar meter persegi. Namun, sebagian aset itu belum tersertifikasi.
“Optimalisasi aset waqaf yang belum bersertifikat merupakan bagian dari contoh yang perlu kita selesaikan,” tambah Agus.
Dirinya juga berharap, sinergi antara BI, MUI, Badan Wakaf dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dapat terus meningkatkan kualitas ekonomi syariah nasional.
“Jadi masih ada gap yang besar. Mari kita bersama memanfaatkan zakat lebih baik lagi,” tutup Agus.(*)
Poin Penting Momentum libur panjang mendorong lonjakan transaksi digital, terutama pembelian tiket, hotel, dan ritel,… Read More
Poin Penting OJK memetakan tiga risiko konflik AS-Israel vs Iran: lonjakan harga minyak, kenaikan inflasi… Read More
Poin Penting Pembiayaan multifinance capai Rp508,27 triliun per Januari 2026, tumbuh 0,78% yoy, dengan NPF… Read More
Poin Penting OJK merestrukturisasi kredit Rp12,6 triliun untuk 246.000 rekening debitur terdampak banjir dan longsor… Read More
Poin Penting Diversifikasi jadi kunci hadapi tekanan global 2026, dengan mengombinasikan aset riil, emas, kredit… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,96% ke level 7.939,76 pada 3 Maret 2026, dengan nilai… Read More