Moneter dan Fiskal

BI Gelontorkan Insentif KLM Rp427,5 Triliun ke Perbankan

Poin Penting

  • BI menyalurkan KLM Rp427,5 triliun per awal Februari 2026, mayoritas melalui lending channel
  • Porsi KLM terbesar mengalir ke bank BUMN Rp207,1 triliun, disusul BUSN, BPD, dan KCBA
  • Insentif KLM diperkuat untuk genjot kredit sektor prioritas dan percepat penurunan suku bunga kredit.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp427,5 triliun kepada perbankan pada minggu pertama Februari 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, total insentif KLM tersebut terdiri dari alokasi ke lending channel sebesar Rp357,9 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,6 triliun.

“Penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) terus ditempuh untuk turut mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi,” kata Perry dalam konferensi pers RDG, dikutip, Jumat, 20 Februari 2026.

Baca juga: Bos BI Minta Bank Masih Perlu Turunkan Suku Bunga

Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN sebesar Rp207,1 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) sebesar Rp184,8 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) sebesar Rp28,5 triliun, dan kantor cabank bank asing (KCBA) sebesar Rp7,1 triliun.

Secara sektoral, kata Perry, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor pertanian, industri, dan hilirisasi, sektor jasa termasuk ekonomi kreatif, sektor konstruksi, real estate, dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan

Perry menambahkan, implementasi KLM yang diperkuat sejak 16 Desember 2025 diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan kepada sektor tertentu yang ditetapkan BI (lending channel).

Baca juga: Rupiah Masih Undervalued, Bos BI Beberkan Penyebabnya

Untuk penetapan suku bunga kredit/persentase imbalan pembiayaan perbankan juga sejalan dengan arah suku bunga kebijakan Bank Indonesia (interest rate channel).

“Dengan penguatan KLM, insentif yang lebih tinggi diberikan bagi bank yang lebih responsif dalam menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan arah penurunan suku bunga kebijakan BI,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Ekonom Permata Bank Proyeksi Kredit Perbankan Tumbuh 10 Persen di 2026

Poin Penting Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan kredit perbankan tumbuh sekitar 10 persen… Read More

6 mins ago

Prabowo-Trump Sepakati Tarif Resiprokal 19 Persen, Begini Pandangan Ekonom

Poin Penting Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump menyepakati tarif resiprokal 19… Read More

18 mins ago

ASLC Proyeksikan Permintaan Mobil Bekas Melonjak Jelang Lebaran 2026

Poin Penting PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) proyeksikan penjualan mobil bekas naik jelang mudik… Read More

30 mins ago

Kesepakatan Dagang RI–AS Tak Sepenuhnya Manis, Ini Catatan Ekonom

Poin Penting Tarif resiprokal RI–AS berisiko menahan ekonomi akibat lemahnya permintaan global, gangguan rantai pasok,… Read More

58 mins ago

Kronologi Kecelakaan KA Bandara dan Truk di Poris Tangerang

Poin Penting Kecelakaan KA Bandara dan truk kontainer di Poris terjadi akibat badan kontainer tertinggal… Read More

1 hour ago

Gara-gara Ini, JPMorgan Kena Denda 12,18 Juta Euro dari Bank Sentral Eropa

Poin Penting Bank Sentral Eropa mendenda JPMorgan Chase cabang Eropa 12,18 juta euro karena salah… Read More

1 hour ago