Ilustrasi: Gedung kantor BCA/istimewa
Poin Penting
Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mendorong perbankan untuk melakukan penurunan suku bunga dana pihak ketiga (DPK) maupun bunga kredit. Ini seiring pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh dan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan.
Merespons hal tersebut, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia (BCA) Hera F. Haryn menjelaskan, dalam menentukan tingkat suku bunga kredit, perseroan senantiasa mencermati berbagai indikator ekonomi, mulai dari arah suku bunga acuan, kondisi pasar, permintaan kredit, hingga likuiditas perbankan.
“Kami secara berkala melakukan review tingkat suku bunga agar tetap berada pada level yang kompetitif dan dapat diterima pasar, dengan tetap memperhatikan daya beli masyarakat,” kata Hera kepada Infobanknews, kemarin.
Lebih jauh Hera menjelaskan, di tengah transmisi kebijakan suku bunga yang masih berjalan lambat, BCA memastikan memiliki likuiditas yang memadai untuk menopang ekspansi pembiayaan.
Baca juga: Asing Terciduk Borong Saham BBCA, Net Buy Tembus Rp1,30 Triliun
“Kami berkomitmen terus menyalurkan kredit ke berbagai sektor dan segmen ekonomi, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko,” jelas Hera.
Hingga akhir September 2025, total kredit yang disalurkan BCA tercatat tumbuh 7,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp944 triliun.
Tahun ini, bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia tersebut menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 6-8 persen.
Baca juga: Transaksi QRIS BCA Tembus Rp267 Triliun hingga September 2025
BI menilai penurunan suku bunga perbankan perlu terus didorong sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh.
Diketahui, BI sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak 150 basis poin (bps) sejak September 2024. Sayangnya, langkah agresif BI ini ini belum berdampak signifikan pada bunga DPK maupun bunga kredit perbankan.
“Masalahnya adalah bagaimana suku bunga dana pihak ketiga dan suku bunga kredit yang turunnya masih berjalan lambat. Itu yang kami terus untuk dorong tentu saja agar suku bunga kredit bisa turun dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu, 22 Oktober 2025. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More
Poin Penting Nobu Bank catat laba Rp481,3 miliar di 2025, tumbuh 46,3% yoy. Kredit naik… Read More