BI: Bila Tidak Intervensi Pasar, Rupiah Bisa Terdepresiasi 15%
Jakarta– Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7 days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) miliknya sebesar 25 basis poin (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang sedang berlangsung pada 26-27 September 2018.
Hal tersebut disampaikan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara ketika dihubungi oleh Infobank. Dirinya menyebut, kenaikan pada bulan ini guna antisipasi kenaikan yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS).
“BI diperkirakan akan melakukan kenaikan bunga acuan 25 basis poin sebagai respon terhadap Fed rate. Dampak positifnya imbal hasil dari instrumen domestik berbasis bunga akan semakin menarik. Investor asing bisa lebih bertahan di Indonesia,” kata Bhima ketika dihubungi oleh Infobank di Jakarta, Kamis 27 September 2018.
Bhima menyebut, kondisi tersebut dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak negatif dari kenaikan suku bunga tersebut ialah mengurangi daya beli masyarakat dan mempengaruhi kemampuan bayar bagi para debitur.
“Dampak negatifnya bunga kredit semakinada mahal mempengaruhi kemampuan bayar debitur baik swasta maupun perorangan di segmen kredit konsumsi. Cost of borrowing yang naik menjadi penahan dari ekspansi perusahaan swasta,” kata Bhima.
Sebagai informasi RDG bulan ini akan dilakukan pada 26-27 September 2018, yang akan membahas perkembangan ekonomi terkini, baik secara domestik maupun global. Di hari terakhir RDG tersebut akan diputuskan untuk menaikkan atau mempertahankan suku bunga acuan BI.
Sebelumnya, sepanjang 2018 BI telah menaikkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebanyak 125 bps pada bulan Mei Juni dan Agustus sehingga kini berada di level 5,5%. Namun sepertinya kebijakan tersebut belum dapat memulihkan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, diperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunganya pada bulan September ini.(*)
Poin Penting BRI Life dan RS Awal Bros Group meresmikan fasilitas rawat inap premium The… Read More
Poin Penting Jamkrindo membukukan laba sebelum pajak Rp1,28 triliun dan laba bersih Rp1,05 triliun di… Read More
Poin Penting Status Indonesia tetap di kategori Secondary Emerging Market versi FTSE Russell dan tidak… Read More
Poin Penting Ancaman siber di Indonesia meningkat tajam pada 2025, dengan jutaan serangan berhasil diblokir… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.035 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS. Sentimen… Read More
Poin Penting IHSG dibuka melemah 0,89 persen ke level 7.214,17 pada awal perdagangan (9/4), dari… Read More