Moneter dan Fiskal

BI Borong SBN Rp86,16 Triliun hingga Maret 2026, Buat Apa?

Poin Penting

  • Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026, termasuk Rp46,72 triliun di pasar sekunder.
  • Menurut Gubernur Perry Warjiyo, pembelian SBN dilakukan secara terukur dan transparan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
  • Kebijakan ini menjadi bagian dari bauran kebijakan moneter BI untuk menjaga stabilitas rupiah, likuiditas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026. Pembelian ini sebagai bagian dari sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.

“Bank Indonesia membeli SBN pada 2026 (hingga 16 Maret 2026) mencapai Rp86,16 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp46,72 triliun,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa 17 Maret 2026.

Baca juga: 7 SBN Ritel Dirilis, Masih Layak Dibeli Tahun Ini?

Perry menjelaskan bahwa pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, secara terukur dan transparan, serta konsisten dengan program moneter untuk menjaga stabilitas perekonomian.

Langkah ini juga dilakukan guna mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Selain itu, BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Stabilitas Rupiah dan Likuiditas Tetap Dijaga

Perry menyebut, penguatan kebijakan moneter juga dilakukan melalui kebijakan suku bunga BI-Rate yang pada Februari 2026 dipertahankan di level 4,75 persen, level terendah sejak 2022.

Level tersebut tercapai setelah penurunan 150 basis poin (bps) sejak September 2024, yang terdiri dari penurunan 25 bps pada September 2024 dan 125 bps sepanjang 2025.

Baca juga: BI Tetap Siaga di Pasar Jaga Rupiah selama Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri

Selain itu, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui intervensi di pasar off-shore melalui NDF, serta intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Ekspansi likuiditas rupiah juga ditempuh melalui penurunan posisi instrumen moneter SRBI, dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp831,55 triliun pada 13 Maret 2026. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

3 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

9 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

9 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

9 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

9 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

9 hours ago