Ilustrasi: Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan faktor yang menjadi menghambat pertumbuhan kredit, yakni suku bunga yang relatif masih tinggi dan pemberian special rate kepada deposan besar.
Destry menjelaskan, transmisi dari kebijakan moneter BI terhadap penurunan suku bunga perbankan masih lambat. Adapun BI Rate sejak September 2024 turun 150 bps menjadi 4,75 persen. Kendati demikian, lending rate untuk kredit baru sudah turun sebesar 88 bps.
“Memang lending rate belakangan untuk yang kredit baru, dia turunnya sudah lumayan, sudah 88 basis point dia turun. Artinya bank sudah mulai siap sebenarnya untuk lending appetite-nya, bank sudah mulai tinggi,” kata Destry dalam peluncuran buku kajian stabilitas keuangan No. 46, Jumat, 27 Februari 2026.
Baca juga: OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen
Destry meminta perbankan untuk segera menurunkan special rate dana agar mendorong suku bunga kredit ikut melandai. Selain itu, BI juga ikut mendorong melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dengan memberikan potongan giro wajib minimum (GWM) 1 persen apabila bank menyesuaikan suku bunga kredit/pembiayaan sejalan dengan suku bunga kebijakan BI (interest rate channel).
“Ini pun kami memberikan insentif, jadi tadi KLM kita itu kita bagi dua, ada yang namanya lending channel, bank-bank yang memberikan kreditnya kepada sektor-sektor prioritas, tapi ada juga yang namanya interest rate channel, yaitu bank-bank yang cepat menjalankan transmisi kebijakan moneter kami masuklah ke sektor perbankan itu, ke kredit khususnya,” jelasnya.
Baca juga: OJK: Perpanjangan Penempatan Dana Rp200 T Pacu Kredit Tumbuh hingga 12 Persen
Destry menyebut dari total insentif KLM yang diperoleh bank sebesar Rp427,5 triliun pada minggu pertama Februari 2026, dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp357,9 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,6 triliun.
“Padahal interest channel itu baru kita perkenalkan mungkin 2 bulan. Jadi artinya memang time-nya pas, karena bank pada saat 2 bulan terakhir mereka mulai itu menurunkan suku bunga,” katanya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More
Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN menurun ke bawah 10%, dari sebelumnya sekitar 26%, dengan target… Read More
Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,39% ke level 7.307,58 pada perdagangan 9 April 2026. Mayoritas… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya akui miskomunikasi, sebagian pengadaan motor listrik untuk SPPG ternyata sempat disetujui.… Read More
Poin Penting Livin’ by Mandiri hadirkan QR antarnegara di Korea Selatan, memungkinkan transaksi QRIS tanpa… Read More