Ilustrasi: Bank Indonesia. (Foto: Istimewa)
Jakarta – Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air telah menunjukkan pencapaian positif. Ini tercermin dari pembiayaan perbankan syariah yang tumbuh 14,07 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2024.
“Raihan tersebut lebih tinggi dibanding pembiayaan bank konvensional yang tumbuh 12,15 persen yoy. Kinerja keuangan syariah seperti zakat, infaq, sedekah, dan wakaf, juga tumbuh positif,” ujar Deputi Gubernur BI Juda Agung dalam acara Kick Off Bulan Pembiayaan Syariah 2024, Selasa, 25 Juni 2024.
Lebih jauh dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah akan terus didorong. Setidaknya, ada tiga fokus utama dalam penguatan ekonomi keuangan syariah di Tanah Air. Mulai dari inovasi produk dan digitalisasi, inklusi dan literasi keuangan syariah, dan sinergi inisiatif.
Baca juga: OJK: Literasi Keuangan Syariah Tembus 39,11 Persen, Inklusi Stagnan
Pertama, kata Juda, produk dan digitalisasi. Dia menceritakan pengalamaannya saat berkunjung ke Kanada. Dia terkesan dengan inovasi dan digitalisasi keuangan syariah di Kanada yang bernama Manzil, platform one stop solution untuk keuangan syariah.
“Platform ini isinya beragam dari investasi, mortage yang tetap berstandar dalam prinsip syariah. Bahkan untuk aspek legal seperti membuat surat wasiat, surat waris yang sejalan dengan aspek syariah,” ujarnya.
Kehadiran platform tersebut setidaknya bisa menjadi trigger bagi industri keuangan syariah untuk lebih adaptif bergerak untuk melakukan berbagai inovasi. Sehingga mampu mendorong masyarakat untuk shifting dari konvensional ke syariah.
“Sudah saatnya industri (keuangan syariah) dapat melakukan inovasi-inovasi produk keuangan syariah yang menonjolkan kekhasan aspek syariah itu sendiri sehingga konsumen semakin terdorong untuk shifting dari konvensional ke dalam syariah,” ujarnya.
Strategi kedua, lanjut Juda, terkait dengan peningkatan inklusi dan literasi keuangan syariah. Dia menilai, semakin tinggi tingkat inklusi dan literasi keuangan syariah, semakin tinggi pula penerimaan dan penggunaan produk keuanganan syariah oleh masyarakat. Oleh karenanya, pemerintah menargetkan tingkat literasi keuangan syariah sebesar 50 persen pada 2025.
“Tentu tidak dapat kita capai dengan bisnis biasa, perlu akselerasi inklusi dan literasi keuangan syariah melalui strategi edukasi yang lebih masif. Customer centric, melalui narasi dan kanal yang konteks dan lebih kekinian, sehingga masyarakat utamanya milenial makin tertarik untuk menggunakan produk syariah,” jelasnya.
Baca juga: Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah, OJK Kembali Gelar ISFO 2024
Terakhir, Juda menekankan perlunya insiatif dan sinergi antar lembaga dalam pengembangan keuangan syariah. Sebagai wujud sinergi dengan share holder terkait, tahun BI memulai kegiatan Bulan Pembiayaan Syariah lebih awal dan terstruktur. Melalui project charter antar kementerian dan lembaga untuk meningkatkan akses pembiayaan terhadap UMKM.
Strategi tersebut akan dijalankan melalui inkubasi bisnis UMKM, penyelenggaraan bisnis matching syariah dalam Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) dan Indonesia Sustainibility Forum (ISF), serta ekosistem pondok pesantren inklusif keuangan syariah yang akan diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuanga (OJK).
“Seluruhnya kami ikhtiarkan untuk mencapai akselerasi pembiayaan syariah, mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.
Oleh Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group KREDIT macet dalam perbankan bukan sekadar angka… Read More
Oleh Tim Infobank DI sebuah ruang pemeriksaan di Mapolda Jawa Barat, udara tak hanya berdebu… Read More
Poin Penting BSI menggandeng Kadin untuk mendorong UMKM lokal naik kelas melalui sinergi pembiayaan, pembinaan,… Read More
Poin Penting CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan hingga saat ini tidak ada pembahasan terkait rencana… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa meyakini pembukaan IHSG pekan depan tidak terganggu meski sejumlah… Read More
Poin Penting BEI dan OJK dijadwalkan bertemu MSCI secara daring pada 2 Februari 2026 untuk… Read More