Lalu, keempat, efisiensi logistik dan dukungan industri manufaktur yang masih belum memadai. Kelima, kebijakan industri yang belum terintegrasi antar lembaga terkait dan antara pemerintah pusat dan daerah. Selanjutnya, keenam, struktur industri yang belum berimbang yang menciptakan ketergantungan bahan baku dan penolong pada luar negeri.
“Terakhir, ketujuh, keterbatasan sumber pembiayaan industri terutama dari sisi keberagamannya,” ujar Agus usai Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah dan BI, di Surabaya, Jumat, 25 November 2016.
Dia mengatakan, tantangan pengembangan industri manufaktur di Indonesia akan direspon melalui berbagai upaya. Salah satunya, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang difokuskan pada upaya meningkatkan nilai tambah SDA.
“Kemudian, mendorong keunggulan kompetitif dan berwawasan lingkungan, serta menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh,” ucap Agus. (*)
(Baca juga : Manufaktur Dipercaya Dorong RI Keluar dari Middle Income Trap)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Oleh Muhammad Edhie Purnawan, Staf Pengajar FEB UGM dan Ketua Bidang International Affairs PP ISEI… Read More
Poin Penting Komisi III DPR mengecam penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus dan… Read More
Poin Penting BNI menyediakan pembelian Sukuk Ritel SR024 melalui aplikasi wondr by BNI dengan cashback… Read More
Poin Penting BNI mengajak masyarakat merencanakan keuangan selama Ramadan melalui fitur Growth di aplikasi wondr… Read More
Poin Penting Tugu Insurance mengajak masyarakat berdonasi untuk membantu penyintas kecelakaan lalu lintas yang mengalami… Read More
Poin Penting AI bantu analisis pasar kripto dengan mengolah data besar seperti harga historis, volume… Read More