News Update

BI: 2019, Stabilitas Sistem Keuangan di DKI Jakarta Masih Akan Terjaga

Jakarta – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta mencatat, kondisi stabilitas sistem keuangan di DKI Jakarta masih terjaga. Hal ini tercermin dari stabilitas sistem keuangan di DKI Jakarta pada triwulan III 2018 yang menunjukkan kinerja positif.

Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Trisno Nugroho dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Jakarta, Kamis, 6 Desember 2018. Menurutnya, terjaganya stabilitas sistem keuangan masih akan berlanjut di 2019.

“Kenaikan pertumbuhan kredit perbankan akan berlanjut pada tahun 2019 dengan likuiditas yang cukup. Pembiayaan dari pasar modal juga akan meningkat,” ujar Trisno.

Bank Sentral mencatat, pada triwulan III 2018 menunjukkan kinerja positif. Penyaluran kredit oleh perbankan tumbuh hingga 13,82 persen (yoy), atau tertinggi sejak tiga tahun terakhir. Risiko kredit juga masih terjaga pada level yang rendah dengan NPL 2,05 persen, jauh di bawah batas toleransi 5 persen.

“Kinerja ekonomi domestik pun didukung pula oleh kelancaran sistem pembayaran, baik tunai maupun non-tunai,” ucap Trisno.

Untuk menjaga stabilitas keuangan, tambah dia, kebijakan makroprudensial yang akomodatif terus ditempuh Bank Sentral untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dan mendorong intermediasi perbankan dalam pembiayaan ekonomi.  

Pada tahun 2018, BI juga telah melonggarkan ketentuan Loan-to-Value (LTV) rasio untuk mempermudah kepemilikan rumah. Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) diperlonggar untuk memperluas pendanaan perbankan nilai besar (wholesale) serta pembiayaan ekonomi melalui pembelian obligasi korporasi.

“Fleksibilitas manajemen likuiditas perbankan juga ditingkatkan melalui pelonggaran ketentuan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM),” paparnya.

Kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan dilanjukan pada tahun 2019. Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) akan ditinjau dari waktu ke waktu untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan sekaligus memperluas pendanaan dan pembiayaan ekonomi melalui surat-surat berharga.

“Kebijakan makroprudensial juga akan diarahkan untuk pengembangan UMKM dan sektor prioritas, termasuk ekspor dan pariwisata. Surveilans terhadap bank-bank besar dan korporasi akan diperkuat,” tutup Trisno. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Teknologi Terpadu Tekan Risiko Gangguan Operasional IT

Poin Penting Kerusakan atau hang perangkat operasional seperti aplikasi kasir bisa menyebabkan gangguan bisnis serius… Read More

26 mins ago

OJK Targetkan Aset Asuransi Tumbuh hingga 7 Persen di 2026

Poin Penting OJK menargetkan aset asuransi tumbuh 5-7 persen pada 2026, seiring optimisme kinerja sektor… Read More

2 hours ago

OJK Targetkan Kredit Perbankan Tumbuh hingga 12 Persen di 2026

Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More

2 hours ago

Kekerasan Debt Collector dan Jual Beli STNK Only Jadi Alarm Keras Industri Pembiayaan

Poin Penting Kekerasan debt collector dan maraknya jual beli kendaraan STNK only menggerus kepercayaan publik,… Read More

4 hours ago

OJK Wanti-wanti “Ormas Galbay” dan Jual Beli STNK Only Tekan Industri Pembiayaan

Poin Penting OJK menegaskan peran penagihan penting menjaga stabilitas industri pembiayaan, namun wajib diatur rinci,… Read More

4 hours ago

Sidak Industri Baja, Purbaya Kejar Potensi Tunggakan Pajak Rp500 Miliar

Poin Penting Menkeu Purbaya sidak dua perusahaan baja di Tangerang yang diduga menghindari pembayaran PPN… Read More

4 hours ago