Bersiap Diri Menghadapi Guncangan Perekonomian Global

Bersiap Diri Menghadapi Guncangan Perekonomian Global

Gejala Deglobalisasi, Efek dari Ketegangan Geopolitik Rusia-Ukraina
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

 

Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom, Co-Founder & Anggota Dewan Pakar Institute of Social Economic Digital (ISED)

BANK Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), telah menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) sebesar 75 basis point (bps) dan telah mengisyaratkan kesediaan untuk mempertahankan laju pengetatan ini pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Juli ini.

FFR diperkirakan akan berada di atas 3% di akhir tahun ini dengan posisi dolar AS akan tetap kuat, dengan pergerakan lebih keras dan lebih cepat datang disertai kenaikan biaya ekonomi. Langkah The Fed yang agresif, yakni menaikkan FFR sebesar 125 bps, hanya dalam dua bulan terakhir, memberikan gambaran upaya ekstra keras bank sentral AS untuk mendinginkan perekonomian AS yang sempat memanas, ditandai dengan inflasi yang bertengger di level 8,5% pada Mei lalu.

Sebagai pengingat, sebelumnya The Fed telah menaikkan FFR sebesar 50 bps pada Mei 2022 lalu, yang merupakan langkah pertama kalinya diambil dalam 22 tahun sejarah pengambilan kebijakan oleh FOMC.

Pilihan menaikkan FFR secara agresif disadari bukannya tanpa risiko, di mana sekarang pergerakan ekonomi AS cenderung melemah, terlihat dari capaian pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama tahun ini yang terkontraksi 1,6%. Itulah yang memunculkan kekhawatiran kontraksi pertumbuhan akan berlanjut pada kuartal kedua yang mempertegas perekonomian AS memasuki zona resesi.

Meningkatnya risiko resesi AS berarti penurunan suku bunga acuan akan menjadi agenda untuk musim panas 2023. Kenaikan sebesar 75 bps pada Juni 2022 lalu pun merupakan langkah pertama sejak 1994 karena keinginan kuat bank sentral meredam tekanan inflasi dengan kekuatan lebih besar.

Sejatinya pasar telah bergerak ke arah yang sama dengan langkah The Fed sejak rilis data inflasi Mei sebesar 8,6% year on year (yoy) dipublikasikan dan berlanjut pada lonjakan ekspektasi inflasi jangka menengah-panjang sesuai dengan laporan University of Michigan. Saat itulah pelaku pasar, analis, dan ekonom global sudah meyakini bahwa kenaikan yang “di atas  normal sebesar 50 bps” akan ditinggalkan dan sudah saatnya The Fed mengambil langkah ekstra berani dengan menaikkan FFR sebesar 75 bps.

Langkah Taktis yang Terukur

Langkah The Fed tersebut diartikan oleh pasar bahwa rencana pengetatan kuantitatif tetap tidak berubah. Guidance monetary policy yang hawkish akan berlanjut sampai dengan suhu perekonomian mendingin, ditandai dengan capaian inflasi tahunan berkisar 2% sesuai target konsensus nasional. Di sini pasar memaklumi bahwa langkah The Fed sudah dipersiapkan dengan saksama dan terukur dengan segala konsekuensinya.

Pasar pun sudah memiliki perkiraan baru bahwa The Fed telah melihat sinyal kuat bahwa inflasi yang melejit hanya bisa dikendalikan melalui pengetatan kebijakan yang konsisten selama beberapa bulan ke depan. Dot plot perkiraan individu sekarang memprediksi suku bunga dana The Fed di akhir 2022 ini akan berada di level di 3,4% dan 3,8% pada 2023, lalu turun ke level  3,4% pada 2024. Pada akhirnya FFR dalam jangka panjang akan berada di level 2,5%.

Yang menarik, konon ada anggota FOMC yang paling tidak hawkish memiliki perkiraan FFR pada akhir tahun ini berada di atas level 3%. Pernyataan yang menyertainya menggarisbawahi adanya perbedaan pandangan di internal The Fed yang sangat berkomitmen untuk menurunkan inflasi ke target 2% karena sangat memperhatikan risiko inflasi.

Kini berkembang perkiraan baru bahwa akan ada lagi potensi kenaikan akumulatif sebesar 175 bps, dengan perincian kenaikan sebesar 50 bps pada dua kali pertemuan dan kenaikan sebesar 25 bps pada tiga kali pertemuan di paruh kedua tahun ini. Dengan demikian, posisi FFR akan berkisar 3,5%-3,75% di akhir 2022 nanti. Untuk diketahui, FOMC bersidang sebanyak delapan kali dalam setahun. Alhasil outlook perekonomian AS di 2022 dan 2023 akan relatif stabil pada rentang 2,2%-2,3%.

Melandainya arah pergerakan perekonomian AS akan diikuti dengan pelandaian di sisi inflasinya yang diarahkan sesuai dengan target pada level 2%. The Fed pun menyadari bahwa agresivitas langkah menaikkan FFR sudah diperkuat dengan pertimbangan penurunan ekspektasi inflasi tidak akan berjalan mudah mengingat kapasitas sisi penawaran belum mampu mengimbangi sisi permintaan konsumen yang kuat.

Maklum, dengan risiko geopolitik yang mengeras pascaserangan militer Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu, juga langkah-langkah pengendalian pandemi COVID-19 di Tiongkok yang ekstrem dengan strategi penguncian (total lockdown), telah menyebabkan disrupsi rantai pasokan global yang mendorong inflasi berkelanjutan. Tak hanya AS yang dibekap inflasi tinggi, Jerman (7,9%), Inggris (9,1%), dan Prancis (5,2%) juga bertarung keras untuk menurunkan inflasi.

Memang inflasi di negara-negara maju tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi di sejumlah negara sedang berkembang, seperti Venezuela (222%), Zimbabwe (96,4%), Turki (69,97%), Argentina (58%), Ethiopia (36,6%), Iran (35,6%), Sri Lanka (29,8%), Moldova (27,1%), Angola (25,79%), dan Ghana (23,6%). Itu posisi inflasi per April 2022 lalu.

Hanya Tiongkok sebagai salah satu negara perekonomian maju yang inflasinya relatif rendah, yakni sebesar 2,1% per April 2022 lalu. Itulah mengapa bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PBOC), mengambil kebijakan moneter yang countercyclical, yakni menurunkan suku bunga acuan pinjaman untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi yang menurun drastis sebagai dampak penguncian.

PBOC mempertahankan suku bunga acuan pinjaman, di tengah agresifnya bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga, di mana suku bunga pinjaman dengan tenor satu tahun tetap dipertahankan di level 3,7%. Langkah PBOC “yang berbeda” ini menunjukkan hasil yang baik di mana pertumbuhan PDB Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini mencapai 4,8% yoy atau melampaui ekspektasi yang sebesar 4,4% yoy.

Kebijakan penguncian yang ketat untuk mencapai level zero COVID-19 di Tiongkok telah membawa konsekuensi serius di mana kegiatan ekonomi dan investasi bergerak lamban. Inilah yang dikhawatirkan pelaku pasar bahwa outlook pertumbuhan PDB Tiongkok di kuartal-kuartal berikutnya tidak akan mampu melampuai level 5% yoy.

Dengan posisi perekonomian Tiongkok sebagai yang terbesar kedua di dunia, tentu perlambatan ekonomi negara tersebut akan memengaruhi secara negatif outlook perekonomian global. Inilah yang mendasari berbagai lembaga internasional (Bank Dunia, Dana Moneter Internasional/IMF, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi/OECD) mengoreksi ke bawah outlook perekonomian global tahun ini.

Dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2022, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2022 menjadi 2,9% dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 4,1%. Pada April lalu, IMF telah memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi global hampir satu poin persentase penuh menjadi 3,6% pada 2022 dan 2023. OECD telah memangkas perkiraannya sebesar 1,5 poin persentase menjadi 3,0% untuk 2022 ini, meskipun dikatakan ekonomi global harus menghindari serangan stagflasi gaya 1970-an.

Langkah Bank Sentral Lainnya

Kecuali PBOC yang menurunkan suku bunga acuan pinjaman tahunannya, sejumlah bank sentral negara lain telah menaikkan suku bunga acuan, bahkan sebelum The Fed menaikkan FFR pertama kalinya pada Mei 2022. Pada Juli ini, Bank Sentral Eropa, European Central Bank (ECB), diyakini pelaku pasar akan menaikkan suku bunga acuannya setelah beberapa lama terdiam di tengah euforia kenaikan suku bunga acuan global.

Memang pilihan kebijakan moneter ada di masing-masing bank sentral, sehingga tidak bisa digeneralisasi. Di lain sisi, bank sentral pun tidak ingin dikesankan didikte pasar dalam menetapkan suku bunga acuan. Sebab, independensi bank sentral harus dihormati oleh semua pihak.

Ada kepentingan-kepentingan strategis bersifat nation wide di setiap negara menjadi “salah satu” referensi bank sentral dalam strategi pengambilan kebijakan. Artinya, setiap kali The Fed menaikkan FFR, maka tidak mesti bank sentral lainnya juga menaikkan suku bunga acuannya. Di sini langkah PBOC bisa menjadi referensi nyata. Pun demikian dengan langkah Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan kebijakan moneternya yang betul-betul independen, prudent, dan presisi untuk mencapai tujuan-tujuan strategis nasional.

Referensi setiap bank sentral dalam pengambilan keputusan pun tidak melulu hanya mengacu pada arah gerak inflasi, tapi juga variabel-variabel makro-ekonomi lainnya, baik yang sudah, sedang maupun yang akan terjadi nantinya (ekspektasi). Dengan demikian, adanya pandangan bahwa setiap inflasi tahunan naik lalu bank sentral dipastikan akan menaikkan suku bunga acuan menjadi tidak valid lagi. Pandangan linier dan simpel seperti ini nyaris tidak bisa diterapkan lagi.

Dengan demikian, perilaku suku bunga acuan menjadi tidak mudah lagi diperkirakan. Ini setidaknya terlihat dari hasil pooling konsensus yang membentuk dissenting opinions yang terkadang berimbang di antara tiga opsi penetapan suku bunga acuan: naik, tetap atau turun. Yang pasti, ketika inflasi sudah jauh melampaui target sasaran nasionalnya dibarengi dengan munculnya risiko-risiko yang membahayakan perekonomian, maka ada peluang besar suku bunga acuan di negara mana pun akan dinaikkan.

Saat ini, dengan kenaikan inflasi di hampir semua negara di dunia sebagai dampak perang Rusia-Ukraina yang mengganggu rantai pasokan global dan mendorong lonjakan harga komoditas di pasar global secara ekstrem, kemudian diikuti kenaikan suku bunga acuan yang agresif sebagai respons atas kenaikan inflasi, sudah muncul tanda-tanda kuat bakal terjadinya perlambatan ekonomi di tengah penurunan inflasi yang lambat. Inilah yang dikenal dengan istilah stagflasi. Ujung dari stagflasi adalah naiknya angka pengangguran yang tentunya harus direspons dengan kebijakan yang tepat dan terukur.

Alhasil, ibarat perekonomian suatu negara sedang bersiap diri untuk pulih pascapandemi COVID-19, kini tiba-tiba harus dihadapkan kembali dengan tantangan dan ancaman baru berupa sinyal stagflasi yang harus bisa dikendalikan dengan baik dan tepat (sound risk mitigation) sehingga tidak terlalu mengancam keberlanjutan perekonomiannya. Strategi “sedia payung sebelum hujan” merupakan padanan yang tepat ketika berbagai negara kini dihadapkan pada situasi dan kondisi seperti yang digambarkan di atas. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]