CEO Digital Business Sinar Mas Land sekaligus Managing Partner Living Lab Ventures, Mulyawan Gani (kanan) dan Partner Living Lab Ventures, Bayu Seto. (Foto: Mohammad Adrianto Sukarso)
Poin Penting
Jakarta – Iklim investasi di Indonesia belakangan dipertanyakan seiring memburuknya outlook perekonomian domestik, ketidakpastian global, hingga regulasi yang dinilai belum sepenuhnya jelas. Kondisi ini antara lain tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung fluktuatif.
Namun demikian, Sinar Mas Land menilai dinamika IHSG tidak sepenuhnya merefleksikan kondisi iklim investasi nasional. Pandangan tersebut disampaikan CEO Digital Business Sinar Mas Land sekaligus Managing Partner Living Lab Ventures (LLV), Mulyawan Gani, dalam LLV Corporate Update and Media Briefing yang digelar di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.
Menurutnya, pasar modal umumnya menawarkan financial return yang lebih relevan bagi investor jangka pendek. Di sisi lain, terdapat kelompok investor yang mengincar strategic return, seperti penguatan merek dan perluasan pangsa pasar.
Sebagai perusahaan modal ventura, LLV mencatat masih banyak investor asing yang menanamkan modal melalui private investment yang tidak tercatat di pasar modal. Model investasi ini memiliki waktu lebih panjang, namun sejalan dengan tujuan strategis investor.
“Kalau strategic return, otomatis long-time horizon (rentang waktu)-nya itu lebih dari 10 atau 15 tahun. Jadi, apa yang kami mau coba tawarkan manfaatnya itu bukan sesuatu yang untuk orang-orang dapat dengan cepat,” terang Gani, Rabu.
Baca juga: Pasar Saham Tertekan, Begini Jurus Investasi Aman di Tengah Koreksi IHSG
Terlebih, ia menilai, pasar modal Indonesia masih relatif kecil dibandingkan negara lain, termasuk kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini membuat strategi investasi janngka panjang dinilai lebih relevan.
“Investasi-investasi yang dilakukan oleh pemain-pemain global di Indonesia, exit-nya tuh bukan IPO, bukan capital market. Karena sekarang, capital market (Indonesia) juga masih kecil. Pasti exit-nya mereka ada ke strategic investment,” tambahnya.
Sementara, Partner LLV, Bayu Seto menambahkan, banyak investor asing memilih menanamkan modal secara langsung agar dapat mengontrol aset investasinya di Indonesia.
Baca juga: Living Lab Venture Fokus Investasi di Dua Sektor Ini Sepanjang 2025
Ia menyebut, LLV berperan sebagai penghubung antara investor dan aset yang diminati, termasuk dalam skema kolaborasi strategis jangka panjang.
“Bahkan, dalam strategic collaboration-nya, kami akan langsung kolaborasikan antara investor dan juga asetnya. Jadi, mereka punya relationship yang secara langsung bekerja sama dengan aset-aset yang dimiliki,” jelasnya.
Bayu menyebut sektor kesehatan menjadi salah satu portofolio LLV yang menarik minat investor asing. Selain itu, sektor keuangan juga masih diminati, tecermin dari investasi MUFG, grup keuangan asal Jepang.
“(Ada sektor) yang lainnya seperti retail dari Tsutaya, yaitu retail bookstore. Ada juga sektor-sektor baru yang bisa masukin yang sejalan dalam sektor mereka di Jepang,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Jakarta - PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) mengantongi pendapatan Rp1 triliun di sepanjang 2025… Read More
Poin Penting BREN mencatat pendapatan USD605 juta pada 2025, naik 1,4 persen yoy, ditopang kinerja… Read More
Poin Penting Maybank Indonesia memperkuat pembiayaan SME dengan strategi Shariah First, menjadikan segmen syariah sebagai… Read More
Poin Penting OJK menegaskan kebijakan pemrosesan data lintas batas dalam perjanjian dagang RI–AS harus tetap… Read More
Poin Penting Puncak arus balik Lebaran 2026 diprediksi terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret,… Read More
Poin Penting PLN siagakan SPKLU untuk mudik Lebaran 2026: Infrastruktur pengisian kendaraan listrik diperkuat, termasuk… Read More