Ilustrasi Pergerakan saham big banks yang kompak turun usai BI umumkan tahan suku bunga 4,75 persen, Rabu, 22 Oktober 2025. (Foto: istimewa)
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9.00 WIB (11/2), kembali dibuka turun 0,11 persen ke level 6.640,69 dari posisi 6.648,14.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan IHSG hari ini, sebanyak 530,90 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 25 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp462,11 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 89 saham terkoreksi, sebanyak 149 saham menguat dan sebanyak 238 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: IHSG Berpeluang Menguat, 4 Saham Ini Direkomendasikan
Sebelumnya, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, melihat IHSG secara teknikal pada hari ini diprediksi bergerak variatif di rentang level 6.680 hingga 6.800.
“Pada perdagangan kemarin, Senin (10/2) IHSG ditutup turun 1,40 persen atau minus 94,43 poin ke level 6.648. IHSG hari ini (11/2) diprediksi bergerak mixed dalam range 6.600-6.710,” ucap Ratih dalam risetnya di Jakarta, 11 Februari 2025.
Ratih menyoroti IHSG kembali melemah dalam empat hari beruntun yang disebabkan oleh aksi profit taking investor asing di saham Blue Chip. Selain itu, landainya kinerja keuangan, kondisi ekonomi, dan politik yang terjadi saat ini memberikan dampak outflow di pasar ekuitas.
Di samping itu, investor asing sejak awal tahun tercatat jual bersih senilai Rp8,43 triliun. Kondisi rupiah JISDOR juga masih terdepresiasi ke level Rp16.350 per dolar AS (10/2). Di sisi lain, pekan ini pelaku pasar menantikan rilis indeks konsumen, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan penjualan ritel.
Adapun dari mancanegara, Bursa Wall Street ditutup menguat terbatas. Pekan ini, pelaku pasar menantikan rilis inflasi AS yang berpotensi masih sesuai dengan ekspektasi yang mana di Desember 2024 inflasi secara tahunan tercatat 2,9 persen.
Baca juga: INFOBANK15 Naik di Tengah Pelemahan IHSG, Simak Daftar Saham Penggeraknya
Namun, pelaku pasar khawatir dengan dimulainya kenaikan tarif pada Februari 2025 berdampak pada kenaikan inflasi. Di sisi lain, tarif balasan yang diberikan oleh China kepada AS mulai berlaku. Kenaikan Tarif berkisar antara 10-15 persen untuk minyak mentah, gas alam cair (LNG), mesin pertanian, dan mobil yang di impor dari AS.
Kebijakan kenaikan tarif tersebut berdampak pada naiknya inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi global. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More