Ilustrasi - Realisasi belanja pemerintah pusat. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Kementerian Keuangan melaporkan realisasi belanja pemerintah pusat hingga akhir 2025 sudah mencapai Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari target APBN 2025 yang senilai Rp2.701,4 triliun.
“Belanja pemerintah pusatnya awal APBN-nya adalah Rp2.701,4 triliun dan realisasi sementara 31 Desember adalah Rp2.602,3 triliun,” kata Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan, dalam APBN KiTa, Kamis, 8 Januari 2026 di Jakarta.
Suahasil menjelaskan, tak tercapainya belanja pemerintah pusat tersebut disebabkan adanya pembukaan blokir anggaran pada Maret 2025 sebesar Rp206,4 triliun dari kebijakan efisiensi Inpres 1/2025 yang senilai Rp306,7 triliun.
Baca juga: Defisit APBN Melebar, Purbaya: Saya Bisa Bikin 0 Persen, tapi Ekonomi Morat-Marit!
“Jadi kita berbelanja Rp100 triliun lebih rendah karena kita memiliki efisiensi anggaran di awal tahun, namun kita juga melakukan secara fleksibel pergeseran anggaran untuk tetap bisa memenuhi seluruh program-program prioritas pemerintah,” jelasnya.
Suahasil merinci, realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp1.500,4 triliun atau 129,3 persen dari target APBN 2025. Menurutnya, belanja K/L mengalami peningkatan karena adanya belanja tambahan maupun pergeseran anggaran.
Baca juga: Defisit APBN 2025 Tembus 2,92 Persen, Meleset dari Target
“Ada yang sifatnya pergeseran anggaran menyesuaikan dengan prioritas ada juga yang sifat pergeseran anggaran itu termasuk dari belanja non-K/L menjadi belanja K/L. Kalau belanja non-K/L itu bergeser menjadi belanja K/L karena di belanja non-K/L biasanya ada cadangan-cadangan. Kalau seperti bencana itu cadangan. Nah kalau terjadi bencana maka dia pindah menjadi belanja kementerian/lembaga,” imbuhnya.
Sementara itu, belanja non-K/L sudah terealisasi mencapai Rp1.102,0 triliun atau 71,5 persen dari target APBN 2025 yang digunakan untuk pembayaran manfaat pensiun dan subsidi tepat waktu. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Digital Realty Bersama menjalin kemitraan dengan APJATEL untuk mempercepat penguatan konektivitas dan ekosistem… Read More
Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom Senior & Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia MESKIPUN pada awalnya… Read More
Poin Penting Aset asuransi non komersial terkontraksi 0,23 persen yoy per November 2025 menjadi Rp222,84… Read More
Poin Penting Laba industri modal ventura melonjak 150,78% yoy menjadi Rp579,77 miliar per November 2025,… Read More
Poin Penting Sepanjang 2025, OJK menerima 26.220 pengaduan (21.249 pijol ilegal, 4.971 investasi ilegal) dan… Read More
Poin Penting OJK memantau dampak konflik AS–Venezuela, terutama terhadap harga minyak dunia dan komoditas ekspor… Read More