Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat delapan perusahaan telah masuk dalam daftar calon emiten yang akan melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Dari jumlah tersebut, lima perusahaan memiliki aset skala besar di atas Rp250 miliar, sedangkan tiga lainnya merupakan perusahaan skala menengah dengan aset Rp50 miliar-250 miliar.
Berdasarkan sektor, dua perusahaan berasal dari sektor bahan baku dan dua dari sektor keuangan. Sementara itu, masing-masing satu perusahaan berasal dari sektor non-siklikal, energi, industrial, dan transportasi.
Baca juga: Free Float Naik Jadi 15 Persen, Bagaimana Nasib Perusahaan akan IPO? Ini Jawaban OJK
Meski sudah ada delapan perusahaan dalam pipeline, hingga pertengahan kuartal I 2026 belum ada perusahaan yang mencatatkan saham di BEI. Padahal, BEI menargetkan 50 perusahaan melantai di bursa sepanjang 2026.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memastikan target tersebut belum berubah.
“(Untuk targetnya kan kemarin 50, Itu masih berlaku atau akan ada perubahan?) Sampai saat ini sih belum ada perubahan. Kita masih bekerja dengan target itu,” kata Jeffrey dikutip, Senin, 23 Februari 2026.
Selain itu, dalam rencana reformasi pasar modal RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI menaikkan ketentuan minimum aturan free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Aturan ini juga berlaku bagi perusahaan baru yang akan melantai di bursa.
Baca juga: OJK Siap Terapkan Aturan Free Float 15 Persen, Berlaku untuk IPO Baru?
Terkait belum adanya IPO hingga saat ini, Jeffrey menegaskan keputusan listing merupakan langkah strategis masing-masing perusahaan. “Tapi untuk yang baru mau listing tentu akan menyesuaikan dengan peraturan yang baru,” ujarnya.
“Listing itu adalah keputusan strategis masing-masing perusahaan. Ya tentu itu kita kembalikan. Tetapi kita mengundang perusahaan-perusahaan yang punya fundamental baik untuk bertumbuh lebih lanjut di bursa dan berbagi value dengan investor atau publik,” imbuhnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting APBN awal 2026 defisit Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap PDB, dinilai masih… Read More
Poin Penting IHSG sesi I (23/2) ditutup menguat 1,36% ke level 8.384,04 dengan nilai transaksi… Read More
Poin Penting OJK akan memberi notasi khusus pada emiten yang belum memenuhi ketentuan free float… Read More
Poin Penting MA AS membatalkan sebagian kebijakan tarif Trump, namun Indonesia memastikan perjanjian dagang bilateral… Read More
Poin Penting Transaksi ziswaf melalui Muamalat DIN naik 24,75% secara tahunan hingga akhir 2025, menunjukkan… Read More
Poin Penting BI dan Kemenkeu sepakat lakukan debt switching SBN Rp173,4 triliun pada 2026, sesuai… Read More