Market Update

BEI Ungkap 2 Pemicu Panic Selling Saham RI, Ini Penjelasannya

Poin Penting

  • Keputusan MSCI membekukan rebalancing indeks Indonesia Februari 2026 menjadi pemicu utama panic selling investor.
  • Kekhawatiran penurunan status RI dari emerging market ke frontier market muncul jika data transparansi free float tak memenuhi standar MSCI hingga Mei 2026.
  • BEI berkomitmen memenuhi permintaan transparansi MSCI dan terus berdiskusi agar stabilitas serta kepercayaan pasar tetap terjaga.

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan dua faktor utama yang memicu aksi panic selling investor di pasar saham Indonesia.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan salah satu penyebabnya berasal dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026.

“Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau kekurangan konstituen perusahaan percatatan kita di MSCI,” kata Iman dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Baca juga: Alert! BEI Lakukan Trading Halt usai IHSG Ambles 8 Persen

Iman menambahkan, kekhawatiran lain datang dari kewajiban transparansi data free float saham yang harus mendapat persetujuan MSCI sebelum Mei 2026.

“Tetapi memang yang jadi concern adalah kalau data yang mereka (MSCI) minta, artinya data yang kami usulkan mereka merasa tidak cukup. Kalau data yang mereka harapkan itu tidak terpenuhi sampai dengan bulan Mei, mereka akan menurunkan perikan kita dari emerging market menjadi frontier market,” imbuhnya.

Jika status pasar saham Indonesia turun menjadi frontier market, posisinya akan sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Saat ini, Indonesia masih berada di kelompok emerging market bersama Malaysia.

BEI Komitmen Penuhi Standar MSCI

Meski demikian, Iman menyampaikan apresiasi terhadap metodologi MSCI dan menegaskan komitmen BEI untuk memenuhi kebutuhan transparansi data.

“Sehingga tadi kita tidak harapkan bahwa investor-investor kita yang ada sekarang panik. Kita akan berkomitmen terbaik untuk bisa memenuhi transparansi. Karena ini juga bukan hanya baik buat MSCI, tetapi baik juga buat pasar modal Indonesia,” ujar Iman.

Baca juga: Pasar Saham Berdarah, IHSG Ditutup Rontok 7,35 Persen di Tengah Lonjakan Transaksi

BEI pun akan terus berkoordinasi dan berdiskusi dengan MSCI guna memenuhi permintaan data free float sebelum batas waktu Mei 2026. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Pengumuman! Mulai 1 April 2026, Beli BBM Subsidi Dibatasi 50 Liter per Hari

Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More

8 hours ago

Laba Bank Mega Tumbuh 28 Persen pada 2025

Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More

9 hours ago

Refocusing Anggaran, Pemerintah Klaim Bisa Hemat Rp130 Triliun

Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More

9 hours ago

Penyaluran MBG Dipangkas, Potensi Hemat Bisa Tembus Rp20 Triliun

Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More

9 hours ago

KB Bank Bidik Pembiayaan Wholesale Tumbuh 70 Persen di 2026, Begini Strateginya

Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More

10 hours ago

Airlangga Klaim Penerapan WFH Bisa Hemat APBN Rp6,2 Triliun

Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More

10 hours ago