Market Update

BEI Pacu Revisi Regulasi, Target Rampung Sebelum Tenggat MSCI Mei 2026

Poin Penting

  • BEI memetakan perbaikan regulasi jangka pendek dan jangka panjang untuk memenuhi standar pasar saham internasional yang diminta MSCI
  • Revisi aturan pasar saham tidak bisa instan, karena harus menyesuaikan regulasi dalam negeri dan menghadapi sejumlah hambatan, termasuk perubahan regulasi dasar.
  • Percepatan revisi Peraturan 1A ditargetkan rampung awal 2026, paling lambat Maret 2026, dengan tetap menjaga keselarasan dengan koridor hukum nasional bersama OJK dan SRO.

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah memetakan sejumlah perbaikan yang akan dilakukan ke depan untuk memenuhi permintaan regulasi pasar saham internasional dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Senior Advisor to Listing Directorate BEI, Saptono Adi Junarso menjelaskan bila pemetaan itu dilakukan untuk mengetahui revisi atau perbaikan regulasi apa saja yang bisa dilakukan dalam waktu dekat, dan apa saja yang bisa dilakukan dalam jangka panjang karena memerlukan perubahan regulasi dasar di dalam negeri.

“Jadi, intinya sih kita take it seriously lah. Apa yang diharapkan, bukan cuma oleh MSCI, ini bukan satu pihak ya, tapi kita melihat global secara keseluruhan. Tentu saja semua itu harus dilakukan dengan koridor peraturan yang ada,” ujar Saptono di sela-sela acara Indonesia PE-VC Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.

Baca juga: Tak Sekadar Angka, OJK Tegaskan Kualitas Free Float Jadi Sorotan MSCI

Ia mengingatkan bahwa permintaan penyesuaian regulasi sistem pasar saham nasional dengan standar internasional tidak serta merta bisa dilakukan secara keseluruhan dalam waktu singkat. Mengingat, perlu dilakukan penyesuaian kembali pada peraturan dalam negeri untuk bisa mengadopsi standar regulasi pasar saham global.

Ia sendiri mengakui ada sejumlah hambatan dalam mengakomodir permintaan revisi regulasi pasar saham RI oleh MSCI, walaupun ia belum bisa mengumumkan hambatan-hambatan itu secara rinci.

“Makanya, momen ini juga kita gunakan untuk mempercepat perubahan peraturan 1A kita. Di mana, beberapa poin berhasil didiskusikan dengan beberapa pihak dan kita sudah masukkan, serta kita formulasikan dalam perubahan peraturan itu,” ungkap Saptono.

Ia lalu berharap revisi peraturan yang tengah digodok saat ini bisa segera disahkan di awal tahun ini atau selambat-lambatnya pada Maret 2026, sebelum tenggat waktu dari MSCI pada Mei 2026.

Baca juga: IHSG Ambruk, Bos Danantara: Evaluasi MSCI Jadi “Wake-up Call” bagi BEI

Namun begitu, ia kembali menekankan bila perbaikan peraturan pasar saham Indonesia tak boleh menabrak regulasi keuangan nasional yang ada.

Maka dari itu, pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Self- Regulatory Organization (SRO), dan pemangku kepentingan terkait lainnya, akan memastikan perubahan yang ada tetap sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.

“Kalaupun peraturannya perlu berubah, itu yang kita anggap sebagai tahapan medium, yang harus kita laksanakan perubahan. Jadi, kita as soon as possible. Tak perlu tunggu deadline. Kalau perlu, bisa selesai bulan depan,” tegasnya. (*) Steven Widjaja

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Pengumuman! Mulai 1 April 2026, Beli BBM Subsidi Dibatasi 50 Liter per Hari

Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More

9 hours ago

Laba Bank Mega Tumbuh 28 Persen pada 2025

Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More

9 hours ago

Refocusing Anggaran, Pemerintah Klaim Bisa Hemat Rp130 Triliun

Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More

9 hours ago

Penyaluran MBG Dipangkas, Potensi Hemat Bisa Tembus Rp20 Triliun

Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More

9 hours ago

KB Bank Bidik Pembiayaan Wholesale Tumbuh 70 Persen di 2026, Begini Strateginya

Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More

10 hours ago

Airlangga Klaim Penerapan WFH Bisa Hemat APBN Rp6,2 Triliun

Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More

10 hours ago