Perbankan

Begini Tanggapan Bank Mandiri soal Harga Saham Turun di Bawah Rp5.000

Jakarta – Harga saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengalami penurunan hingga di bawah Rp5.000, tepatnya ke level Rp4.860 per saham pada perdagangan hari ini, Selasa, 11 Februari 2025, pukul 14.55 WIB.

Penurunan harga saham BMRI ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali ditutup melemah ke level 6.544,18 atau turun 1,56 persen setelah dibuka di level 6.648,14 pada sesi I perdagangan hari ini.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri, Sigit Prastowo, menyebutkan bahwa penurunan harga saham BMRI lebih dipengaruhi oleh faktor sentimen global serta kondisi makro ekonomi Indonesia. Meski demikian, Sigit tetap optimistis harga saham akan kembali ke posisi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Bos Bank Mandiri Akui Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Pengaruhi Kinerja Perseroan

“Banyak faktor ya, ada faktor sifat lebih global, makro indonesia, itu sedikit banyak juga menjadi faktor membuat harga saham kita, tapi kami punya keyakinan bisa menjaga. Secara perlahan kami lebih optimis, harga saham kembali ke level yang kami capai di tahun-tahun sebelumnya,” ujar Sigit kepada awak media massa, di Jakarta, Selasa, 11 Februari 2025.

Untuk diketahui, berdasarkan statistik Stockbit, harga saham BMRI dalam setahun terakhir telah mengalami penurunan sebesar 31,55 persen atau turun 2.240 poin. Padahal, dalam periode yang sama, harga saham BMRI sempat menyentuh level Rp7.450 per saham.

Meskipun harga saham mengalami penurunan, kinerja keuangan Bank Mandiri sepanjang 2024 tetap mencatat hasil positif. Laba bersih Bank Mandiri tercatat sebesar Rp55,8 triliun, tumbuh tipis 1,31 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan tahun 2023 yang mencapai Rp55,06 triliun.

Baca juga: Dorong Ekonomi Berkelanjutan, Bank Mandiri Gelar Mandiri Investment Forum (MIF) 2025

Lalu dari sisi intermediasi, Bank Mandiri berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp1.671 triliun, meningkat signifikan sebesar 19,5 persen yoy. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen wholesale, yang mencapai Rp913 triliun atau naik 25,5 persen yoy sepanjang 2024. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

4 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

9 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

9 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

10 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

10 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

10 hours ago