Menteri Luar Negeri Sugiono saat menghadiri KTT BRICS Plus di Kazan, Rusia, pada 24 Oktober 2024
Jakarta – China, salah satu anggota BRICS (blok ekonomi negara-negara berkembang) menyambut baik masuknya Indonesia sebagai keanggotaan BRICS, yang diumumkan langsung oleh Kementerian Luar Negeri Brasil, Senin (6/1) waktu setempat.
“Masuknya Indonesia secara resmi ke dalam BRICS melayani kepentingan bersama negara-negara BRICS dan dunia Selatan, kami percaya bahwa Indonesia akan memberikan kontribusi aktif bagi pengembangan BRICS,” tulis pernyataan Juru Bicara Kementerian China, dinukil MFA The People’s Republic of China, Selasa, 7 Januari 2025.
Ia menjelaskan, BRICS menjadi platform utama dalam mempromosikan solidaritas dan kerja sama Dunia Selatan dan kekuatan utama yang mendorong reformasi sistem tata kelola global.
Dengan adanya penambahan terbaru anggota BRICS, hal ini mengikuti tren historis kebangkitan kolektif Dunia Selatan. China pun berkomitmen untuk bekerja sama dengan negara-negara anggota, termasuk Indonesia.
“China siap bekerja sama dengan Indonesia dan negara anggota BRICS lainnya untuk bersama-sama membangun kemitraan yang lebih komprehensif, lebih erat, lebih praktis dan lebih inklusif,” jelas pernyataan itu.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Brasil yang mengumumkan Indonesia menjadi anggota penuh BRICS, pada Senin (6/1) waktu setempat.
Brasil, sebagai pemegang posisi Kepresidenan BRICS menyatakan, para pemimpin BRICS telah menyetujui pencalonan Indonesia pada Agustus 2023.
Namun, negara berpenduduk terbesar keempat di dunia ini baru secara resmi bergabung setelah terbentuknya pemerintahan baru tahun lalu.
“Pemerintah Brasil menyambut bergabungnya Indonesia dalam BRICS,” demikian pernyataan resmi dari Brazil.
Baca juga : Soedradjad Djiwandono Beberkan Keuntungan RI Masuk ‘Geng’ BRICS, Apa Saja?
“Dengan populasi dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia berbagi komitmen dengan negara-negara anggota BRICS lainnya untuk mereformasi lembaga-lembaga tata kelola global, serta berkontribusi positif dalam memperdalam kerja sama Selatan-Selatan,” dinukil VOA Indonesia, Selasa, 7 Januari 2025.
Diketahui, BRICS awalnya dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, dan China pada 2009, kemudian menambahkan Afrika Selatan pada 2010. Tahun lalu, aliansi ini kembali diperluas dengan memasukkan Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.
Arab Saudi telah diundang untuk bergabung, tetapi belum mengambil langkah tersebut. Turki, Azerbaijan, dan Malaysia juga sudah mendaftar secara resmi, sementara beberapa negara lain telah menyatakan ketertarikan bergabung.
Organisasi BRICS dibentuk sebagai penyeimbang dari Kelompok Tujuh (G7), yang terdiri atas negara-negara maju. Selain itu, BRICS juga dibentuk untuk membendung dominasi mata uang dolar di pasar dunia, khususnya Amerika Serikat (AS).
Baca juga : Trump Ultimatum BRICS: Gunakan Dolar AS atau Kehilangan Pasar Amerika
Diketahui, dolar AS masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan global dan berhasil mempertahankan dominasinya meski menghadapi berbagai tantangan di masa lalu.
Namun, anggota aliansi dan negara-negara berkembang lainnya mengaku lelah dengan dominasi Amerika dalam sistem keuangan dunia.
Menariknya, Presiden terpilih AS, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap negara-negara anggota BRICS, memperingatkan potensi penutupan akses pasar Amerika jika mereka tidak menggunakan dolar AS dalam perdagangan.
Trump bahkan mengancam akan menerapkan tarif 100 persen kepada sembilan negara, yaitu Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab.
“Kami menuntut jaminan dari negara-negara ini bahwa mereka tidak akan menciptakan Mata Uang BRICS baru atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar Amerika Serikat yang perkasa. Jika tidak, mereka akan menghadapi tarif 100 persen dan harus siap kehilangan akses ke pasar ekonomi Amerika Serikat yang luar biasa,” ujar Trump di platform Truth Social miliknya. (*)
Editor: Galih Pratama
Oleh: Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank TIGA komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundurkan diri.… Read More
Poin Penting Demutualisasi BEI membuka peluang investor asing menjadi pemegang saham, mengikuti praktik bursa efek… Read More
Poin Penting Demutualisasi BEI dinilai tidak memicu konflik kepentingan, karena pengaturan dan pengawasan tetap di… Read More
Poin Penting BTN Expo 2026 ditutup dengan Awarding BTN Housingpreneur 2025, menyoroti lahirnya 58 inovator… Read More
Poin Penting Jeffrey Hendrik digadang menjadi Pjs Dirut BEI, namun memilih menunggu pengumuman resmi. Penunjukan… Read More
Poin Penting OJK memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga usai penunjukan Friderica Widyasari Dewi sebagai… Read More