Nasabah Kresna Life bersama pengacara saat melakukan aksi di Gedung Wisma Mulia 2, di Jakarta, Senin 1 Juli 2024.
Jakarta – Aliansi Pemegang Polis Kresna Life mempertanyakan pencabutan izin usaha (CIU) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap Kresna Life. Keputusan ini dinilai sangat merugikan nasabah, mengingat likuidasi dan pembagian aset yang tersisa sangat minim.
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) baru-baru ini menolak banding yang diajukan oleh OJK terkait pencabutan izin usaha Kresna Life. Keputusan ini memperkuat gugatan sebelumnya yang diajukan oleh Kresna Life, yang mengakibatkan nasabah merasa khawatir dan bingung akan nasib investasi mereka.
Salah satu perwakilan nasabah Kresna Life Christian Tunggal berharap agar OJK tidak mengajukan kasasi terhadap putusan PTUN tersebut. Menurutnya, pencabutan izin usaha tanpa solusi yang jelas hanya akan merugikan nasabah.
“Apakah ujung dari setiap penyelesaian kasus bermasalah suatu perusahaan jasa keuangan yang dilakukan OJK hanya dengan mencabut izin usahanya?” ujarnya saat ditemui di Wisma Mulia 2, Gatot Subroto, Jakarta, Senin (1/7).
Baca juga: Kresna Life Menang Banding di PTUN, Ini yang Bakal Dilakukan OJK
Menurutnya, pencabutan izin usaha sudah terbukti sangat merugikan para nasabah, karena likuidasi dan pembagian aset yang tersisa sangat minim.
“Hal ini dapat dilihat dari kasus kasus penyelesaian dengan solusi likuidasi. Karena kalau hanya cabut izin usaha, kami dapat pengembalian sangat minim. Buat apa ini?,” tegas Christian.
Nasabah Kresna Life berharap OJK mendengarkan aspirasi mereka dan tidak membuat keputusan secara sepihak. Mereka menilai bahwa pencabutan izin usaha tanpa mempertimbangkan nasib pemegang polis, yang mayoritas adalah lansia, sangat tidak adil.
“Ini seperti cuci tangan tanpa memperhatikan nasib para pemegang polis yang pada umumnya sudah lansia, dan ini merupakan uang mereka satu-satunya hasil dari menabung selama masa muda,” tutur Christian.
Saat ini, sisa aset Kresna Life diperkirakan tidak mencapai Rp1 triliun, bahkan mungkin hanya berkisar Rp500 miliar. Penurunan nilai aset ini disebabkan oleh terus merosotnya nilai saham.
Baca juga: Keputusan “Sesat”! Kresna Life Menang Lagi di PTUN, Ini Preseden “Seburuk-Buruknya” Keputusan
Christian menyarankan agar solusi awal berupa konversi polis ke Subordinated Loans (SOL) dipertimbangkan kembali. Ia yakin bahwa mekanisme tersebut lebih baik dibandingkan dengan likuidasi.
Dia juga berharap OJK dan nasabah bisa bersama-sama menghitung kekurangan risk based capital (RBC) dan mencari solusi yang memungkinkan asuransi jiwa tetap beroperasi serta mencicil utang ke SOL.
“Dengan demikian, asuransi jiwa tetap hidup dan berusaha, serta mencicil utang ke SOL,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More