Moneter dan Fiskal

Begini Cara Pemerintah Antisipasi Dampak Kebijakan Trump 2.0 terhadap Ekonomi RI

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airalngga Hartarto mewaspadai dinamika global yang masih akan memengaruhi perekonomian Indonesia ke depan. Salah satunya, antisipasi dari dampak kebijakan Amerika Serikat (AS) atau Trump 2.0.

Airlangga menyebutkan sejumlah risiko masih akan dihadapi Indonesia seperti, volatilitas harga komoditas, kebijakan perdagangan pemerintahan Trump 2.0, hingga kerentanan ketahanan pangan dan energi akibat perubahan iklim.

“Sejumlah risiko tentu masih akan kita hadapi seperti volatilitas harga komoditas, kemudian tingkat hubungan yang relatif tinggi. Dan tentunya kebijakan perdagangan dari pemerintahan Amerika yang sering kita sebut sebagai Trump 2.0, serta kerentanan ketahanan pangan dan energi akibat perubahan iklim,” ungkap Airlangga dalam Konferensi Pers High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat di Jakarta, Jumat, 31 Januari 2025.

Baca juga: Survei Indikator: 47,9 Persen Masyarakat Sebut Ekonomi RI Tak Ada Perubahan

Untuk itu, kata Airlangga, sejumlah data perekonomian global maupun domestik perlu menjadi perhatian, terutama proyeksi ekonomi global tahun 2025 yang diperkirakan sebesar 3,2 persen. Angka ini di bawah rata-rata historis perekonomian dunia.

“Namun ada yang cukup membanggakan, kalau dari segi Purchasing Power Parity, ekonomi Indonesia sudah masuk di nomor 8. Itu lebih tinggi dari Italia, Prancis, dan ini suatu capaian yang baik,” imbuh Airlangga.

Baca juga: Indonesia jadi Negara Ekonomi Terbesar ke-8 Dunia, Kalahkan Prancis dan Inggris

Menurutnya, Indonesia harus tetap menjaga pertumbuhan ekonomi dan angka inflasi sebesar 1,57 persen secara tahunan (yoy) di 2024. Pemerintah juga terus berupaya untuk menjaga inflasi di kisaran 2,5 plus minus 1 persen di tahun 2025, dengan menjaga komponen inflasi khusus volatile food di kisaran 3-5 persen.

“Khusus untuk tahun 2025, pertama, adalah menjaga inflasi di kisaran 2,5 plus minus 1 persen untuk mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Jerat Defisit APBN: Menkeu Purbaya, Bunga Utang Menggunung dan Tax Ratio yang Rendah

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group JANGAN besar pasak daripada tiang. Mari… Read More

45 mins ago

GoPay Kini Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu di ATM BRI dan Bank BJB, Ini Caranya

Poin Penting GoPay kini bisa tarik tunai tanpa kartu di seluruh ATM BRI dan Bank… Read More

14 hours ago

Animo Tinggi, BRI Kanwil Jakarta II Tambah Kuota Mudik Gratis jadi 2.750 Pemudik

Poin Penting BRI Kanwil Jakarta II menambah kuota mudik gratis menjadi 2.750 pemudik dengan 55… Read More

14 hours ago

Proteksi Pemudik 2026, BRI Life Andalkan Produk Asuransi Digital MODI

Poin Penting BRI Life menghadirkan asuransi digital MODI-MOtraveling untuk melindungi pemudik Lebaran 2026 dari risiko… Read More

14 hours ago

Adira Finance Lepas 300 Pemudik ke Solo dan Yogyakarta, Dapat Cek Kesehatan dan Asuransi

Poin Penting Adira Finance memberangkatkan 300 pemudik dari Jabodetabek menuju Solo dan Yogyakarta melalui program… Read More

14 hours ago

BI Borong SBN Rp86,16 Triliun hingga Maret 2026, Buat Apa?

Poin Penting Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026,… Read More

15 hours ago