Keuangan

Begini Cara Indonesia Re Tekan Defisit Neraca Pembayaran Asuransi

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa sebanyak 40,20 persen premi dari aktivitas reasuransi mengalir ke luar negeri sepanjang 2024. Kondisi ini menunjukkan terjadinya defisit neraca pembayaran di sektor asuransi Indonesia.

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, mengatakan bahwa ketimpangan tersebut menjadi cermin dari ketergantungan industri perasuransian nasional terhadap pasar global. Hal ini sekaligus menyoroti lemahnya kemandirian dan daya saing domestik.

“Setiap tahun, jutaan dolar premi yang dihimpun di dalam negeri justru dinikmati oleh entitas asing. Ini adalah kerugian ekonomi yang nyata dan harus segera kita atasi dengan pendekatan yang lebih sistemik dan strategis,” ujar Delil dalam keterangan resmi dikutip, Rabu, 21 Mei 2025.

Baca juga: Bos OJK Blak-blakan Soal Rencana Asuransi Program MBG

Menurut Delil, strategi untuk menahan pendapatan premi agar tetap berada di dalam negeri tidak cukup hanya dengan kampanye penggunaan produk lokal.

“Kita butuh membangun sistem asuransi yang benar-benar mandiri dan efisien. Kalau kita ingin jadi risk carrier yang sejati, bukan hanya jadi perantara, maka kita harus perkuat dari hulu sampai hilir—dari akseptasi risiko yakni underwriting, pricing, sampai pengelolaan data dan digitalisasi,” imbuhnya.

Strategi Indonesia Re

Dalam rangka menekan defisit neraca pembayaran sektor asuransi, Indonesia Re telah menyusun dua strategi utama. Salah satunya adalah dengan meningkatkan retensi agregat dalam negeri.

Delil menyebut perusahaan asuransi dan reasuransi nasional perlu memperkuat kapasitas modal, kemampuan manajemen risiko, serta mengadopsi skema nasional wajib dan prioritas. Langkah inii diperlukan agar risiko dapat ditahan di dalam negeri sebelum dialihkan ke luar negeri.

Baca juga: Wow! Laba Indonesia Re Tumbuh 5 Kali Lipat di 2024, Ini Pendorongnya

Selain itu, sektor asuransi juga diarahkan untuk membangun posisi sebagai hub reasuransi global atau regional. Tujuannya adalah memperkuat kapasitas domestik agar mampu menerima risiko dari luar negeri, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan reasuransi asing untuk beroperasi di Indonesia dengan skema yang tetap mendatangkan premi ke dalam negeri.

“Jika kita bisa menghimpun segmen risiko berkualitas terbaik dalam skema nasional ini, maka kita dapat meningkatkan efisiensi, memperkuat posisi tawar, dan yang terpenting, mengurangi aliran premi ke luar negeri secara signifikan,” ujar Delil.

Sehingga dengan strategi tersebut, Indonesia Re berharap industri perasuransian nasional dapat mencapai keseimbangan yang sehat antara kepentingan ekonomi dalam negeri dan kebutuhan perlindungan risiko yang berkelanjutan. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Perang AS-Iran Masih Memanas, Rupiah Dibuka Melemah

Poin Penting Rupiah melemah di pembukaan perdagangan ke level Rp16.971 per dolar AS, turun 0,08… Read More

40 mins ago

Update Harga Emas Hari Ini (16/3): Galeri24-UBS Stagnan, Antam Turun

Poin Penting Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian stagnan pada 16 Maret 2026. Harga… Read More

1 hour ago

IHSG Masih Lanjut Dibuka Turun 0,56 Persen ke Level 7.098

Poin Penting IHSG dibuka melemah 0,54 persen ke level 7.098 pada awal perdagangan Senin (16/3).… Read More

1 hour ago

IHSG Awal Pekan Masih Berpotensi Melemah, Ini Katalis Penggeraknya

Poin Penting IHSG diprediksi melanjutkan pelemahan dengan level support 6.865–7.000 dan resistance 7.275–7.410. Sentimen negatif… Read More

2 hours ago

PMI 53,8: Sirkus Musiman yang Dipuji Purbaya di Istana Sebagai Mukjizat

Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa minggu… Read More

7 hours ago

Pergerakan Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More

19 hours ago