Ekonomi Digital

Bea Cukai Ungkap 5 Negara yang Paling Banyak Impor Barang ke RI, Mana Saja?

Jakarta – Direktorat Jenderal Bea & Cukai mengungkapkan lima negara yang paling banyak mengimpor barang kiriman hasil perdagangan Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE) atau e-commerce ke Indonesia.

Direktur Teknis Kepabeanan, Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Fadjar Donny Tjahjadi mengatakan terjadi peningkatan barang impor PPMSE dari tahun 2018 ke 2019.

“Kalau kita melihat dari statsistik barang kiriman yang ada sekarang ini kalau kita lihat terjadi peningkatan dari tahun 2018 ke tahun 2019,” ujar Fadjar dalam Media Briefing Melindungi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari Serbuan Produk Impor”, Kamis 12 Oktober 2023.

Fadjar merinci, pada 2017 jumlah dokumen consignment notes (CN) berada di angka 6,1 juta. Kemudian tahun 2018 meningkat menjadi 19,6 juta dan terjadi peningkatan tiga kali lipat di tahun 2019 mencapai 71,5 juta.

Namun, terjadi penurunan pada tahun 2020 menjadi 61,1 juta, kemudian tahun 2021 kembali meningkat 61,5 juta, dan menurun di 2023 menjadi sebesar.

Pihaknya pun menyampaikan, dari kegiatan importasi melalui barang kiriman PSME ini terdapat lima negara asal yang paling banyak mengimpor barang ke Tanah Air.

Pertama, didominasi oleh China pada China pada 2021 dengan Nilai Devisa Impor sebesar USD186,9 juta atau sebesar 24,9 persen. Tahun 2022, senilai USD151,2 juta atau 21,4 persen dan hingga Mei 2023 mencapai USD61,9 juta atau 24,3 persen.

Kedua, Hongkong tahun 2021 dengan Nilai Devisa Impor sebesar USD123,7 juta atau sebesar 16,5 persen. Tahun 2022, senilai USD120 juta atau 17 persen dan hingga Mei 2023 mencapai USD38,6 juta atau 15,2 persen.

Ketiga, Singapura hingga Mei 2023 mencapai USD36,6 juta atau 14,4 persen. Keempat, AS mencapai USD21,1 juta atau 8,3 persen dan terakhir Jepang USD18,1 juta atau 7,1 persen.

“Didominasi tetap dari China, Hongkong, Singapura, Jepang dan Amerika Serikat (AS). Ini yang setidaknya kecenderungannya 5 negara itu di tahun 2021, 2022 dan 2023. Memang peringkat yang paling tinggi berdasarkan nilai devisa impor itu impor dilakukan melalui China,” ungkapnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

8 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

8 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

10 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

10 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

10 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

11 hours ago