Ilustrasi suku bunga. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memprediksi suku bunga acuan atau BI Rate akan dipangkas sebanyak dua kali pada 2026.
Sebelumnya, BCA sempat memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dipangkas tiga kali pada tahun ini.
Namun, BCA melakukan penyesuaian proyeksi seiring dinamika kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) yang tidak se-agresif perkiraan awal
“BI Rate kite memprediksi satu sampai dua kali, untuk saat ini. Tahun lalu kita proyeksikan tiga kali. Tapi melihat situasi di US yang memang tidak se-agresif yang diperkirakan, kita juga merevisi pemangkasan suku bunga acuan itu satu sampai dua kali,” ujar Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA dalam Konferensi Pers Kinerja Keuangan 2025, Selasa, 27 Januari 2026.
Baca juga: Bos LPS Sentil Bank yang Belum Turunkan Suku Bunga Simpanan
Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20-21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Respons BCA Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 4,75 Persen
Ke depan, BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini dan tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut dengan prakiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen, serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Adapun sejak September 2024, BI Rate telah turun sebesar 150 bps, yaitu 25 bps pada September 2024 dan 125 bps selama tahun 2025 menjadi 4,75 persen hingga Desember 2025, yang merupakan level terendah sejak tahun 2022. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More
Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More
Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More
Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More
Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More
Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More