Moneter dan Fiskal

Baru Diluncurkan, Pandemic Fund Sudah Himpun Dana USD1,4 Miliar

Jakarta – Presiden RI Joko Widodo secara resmi meluncurkan Pandemic Fund atau Dana Pandemi dalam rangkaian KTT G20 Presidensi Indonesia yang dibentuk oleh negara anggota G20 sebagai antisipasi jika terjadi lagi pandemi di kemudian hari. Presiden RI mengatakan, pandemi tidak boleh lagi memakan banyak korban jiwa dan meruntuhkan sendi-sendi perekonomian global.

“Untuk itu, Presidensi G20 Indonesia terus mendorong arsitektur kesehatan global di mana dunia harus memiliki kapasitas pembiayaan untuk mencegah dan menghadapi pandemi dan membangun ekosistem kesehatan yang tersinergikan lintas negara,” kata Jokowi dalam keterangan resmi, Senin, 14 November 2022.

Sejak dibentuk pada 8 September 2022 lalu, Pandemic Fund hingga kini telah menghimpun dana lebih dari USD1,4 miliar dari 24 donor baik dari negara G-20, negara non G20, dan lembaga filantropi.

Menurut Jokowi, dibutuhkan dana sebesar USD31,1 miliar untuk pencegahan dan pengelolaan pandemi berdasarkan studi Bank Dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia. Dia pun mengajak semua pihak berkontribusi dalam mendukung beberapa inisiatif terkait kesehatan global seperti pembentukan platform koordinasi penanggulangan darurat kesehatan.

“Pembentukan Dana Pandemi dan komitmen awal kontribusi ini merupakan sebuah langkah awal yang baik. Namun demikian, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan dana ini mencapai tujuan yang dicita-citakan,” tegas Presiden Jokowi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menyampaikan, bahwa Pandemic Fund ini akan ditargetkan sebagai katalisasi untuk sumber dana jangka panjang bagi penanggulangan pandemi, insentif bagi negara untuk meningkatkan investasinya terhadap Pandemic Prevention, Preparedness, and Response (PPR), serta penguatan koordinasi antar organisasi internasional.

“Pandemic Fund akan memainkan peran kunci dalam menjembatani kerja sama di antara anggota G20 baik negara maju maupun berkembang, anggota non G20, dan pemangku kepentingan, termasuk filantropi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil,” kata Menkeu. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI

Poin Penting Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dari sekitar USD73 hingga berpotensi USD120-140… Read More

11 hours ago

SMF Sebut Pendanaan Rumah Subsidi Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Poin Penting SMF memastikan pendanaan rumah subsidi dan FLPP tetap terjaga dan berkelanjutan meski ekonomi… Read More

11 hours ago

Istana Bantah Anggaran Pendidikan Dipangkas karena Program MBG

Poin Penting Istana memastikan anggaran pendidikan tidak dipangkas meski program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan.… Read More

11 hours ago

Kabar Baik untuk Guru Honorer, Insentif Naik dan Tunjangan Non-ASN Tembus Rp2 Juta

Poin Penting Insentif guru honorer naik menjadi Rp400.000, pertama kali meningkat sejak program berjalan sejak… Read More

11 hours ago

Industri BPD Didorong Adopsi Agentic AI untuk Akselerasi Transformasi Digital

Poin Penting Industri BPD didorong mengadopsi agentic AI untuk meningkatkan efisiensi, keamanan siber, kepatuhan, dan… Read More

12 hours ago

PLN Beri Diskon 50 Persen Tambah Daya Lewat PLN Mobile Selama Ramadan 2026

Poin Penting PLN beri diskon 50% tambah daya listrik via PLN Mobile selama 25 Februari–10… Read More

13 hours ago