Jakarta–Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) bekerja sama dengan Pemerintah Australia dan Pemerintah Swiss meluncurkan hasil survei inklusi keuangan perdana di Indonesia melalui acara “Launching Results of the Survey on Financial Inclusion and Access (SOFIA) Indonesia”.
Penemuan terperinci dari SOFIA akan memberikan pemahaman yang lebih baik atas faktor-faktor yang mendorong penggunaan produk dan jasa keuangan di Indonesia, serta batasan yang dihadapi konsumer dalam mengakses layanan keuangan tersebut. Tidak hanya penting bagi institusi keuangan dalam merancang produk komersial yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumer, hasil SOFIA juga vital bagi Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan kebijakan pembangunan keuangan yang inklusif.
Hal ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan InkIusi (SKNI), yang menargetkan sebesar 75 persen populasi dewasa harus dapat mengakses Iayanan keuangan formal pada 2019.
SOFIA mengadopsi metodologi yang digunakan dalam survei FinScope yang teIah dilakukan di lebih dari 25 negara. Metodologi ini menggunakan metode survei dari sisi permintaan (demand-side survey) yang sangat umum digunakan untuk mengukur akses keuangan di level individu.
Secara mengejutkan, SOFIA mengungkapkan bahwa 41 persen populasi di keempat provinsi sudah menggunakan layanan perbankan, tetapi kurang dari setengah jumlah tersebut masih belum memiliki rekening bank sendiri. Selain itu, jumlah siginifikan dari masyarakat yang aktif menggunakan layanan perbankan, masih menggunakan rekening bank milik keluarga ataupun temannya sendiri. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Di keempat provinsi, 31 persen masyarakat sudah menggunakan kombinasi layanan keuangan formal dan informal, dan setidaknya 10 persen hanya mengandalkan layanan informal (terutama Jawa Timur). Hasil survei responden perempuan cenderung belum menggunakan layanan perbankan dibandingkan laki-laki. Perempuan Iebih banyak mengakses layanan informal dikarenakan partisipasi mereka dalam kelompok informal seperti arisan. Walau jumlah pengguna layanan formal tetap menggunakan layanan informal, hal ini tetap membuka kesempatan bagi penyedia layanan keuangan formal untuk memahami nilai tambah mereka dibanding opsi informal yang tersedia.
“Kami melihat penemuan SOFIA sebagai kunci pemahaman bagaimana kelompok berbeda di Indonesia mengatur kehidupan finansialnya termasuk perbedaan antara laki-laki dan perempuan kelompok umur berbeda. aktivitas ekonomi dan sumber pendapatan di lokasi pedesaan dan perkotaan. kami berharap temuan ini dapat bermanfaat bagi Pemerintah indonesia dalam upaya mencapai inklusi keuangan secara nasional. dan juga bagi institusi keuangan daiam mengernbangkan produk yang disesuaikan untuk masyarakat miskin,” jelas Minister-Counsellor for Governance and Human Development Kedutaan Besar Australia Fleur Davies di Hotel Pullman, Jakarta, Senin, 22 Mei 2017.
SOFIA juga mengindikasikan bahwa secara keseluruhan Iayanan keuangan semi-formal membatasi penetrasi dan memberikan kontn‘busi minimal pada tingkat inklusi keuangan. Termasuk dl daiamnya produk yang ditawarkan oleh koperasi simpan pinjam, dan skema kredit pemerintah yang tidak dilaksanakan melalui jalur sistem perbankan.
“Data yang dikumpulkan di dalam SOFIA menawarkan kesempatan yang lebih besar untuk sektor keuangan. Hal ini memberikan informasi tangan panama bag bank untuk merancang potensi produk keuangan baru. yang memungkinkan masyarakat mengoptimalkan pelayanan keuangan yang aman, mudah diakses, dan terjangkau,” ujar Head of Economic Development Cooperation SECO Kedutaan Besar Swiss Martin Stottele di Jakarta. (*)




