Categories: Ekonomi dan Bisnis

Banyaknya Pungutan, Hambat Pertumbuhan Ekonomi

Jakarta – Banyaknya pungutan di Kementerian dan Lembaga (K/L) serta di Pemerintah daerah (Pemda) saat ini dikeluhkan dunia usaha. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi nasional. Adanya kondisi tersebut, Kemenko Perekonomian akan melakukan deregulasi terkait pungutan itu termasuk di sektor kehutanan, dengan membebaskan pengurusan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

“Ngurus SVLK itu mencapai Rp50 jutaan. Itu jelas mahal. Bagaimana kalau mereka dari UKM yang belum tentu melakukan ekspor,” ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Perniagaan dan Industri, Edy Putra Irawady, di Jakarta, Senin, 7 Maret 2016.

Selama ini, kata dia, disaat pihaknya tengah melakukan deregulasi kebijakan dengan menerbitkan paket kebijakan ekonomi, justru banyak K/L lain dan pemda yang tidak sejalan dengan pihaknya.

“Saat ini ada 14 ribu regulasi Perda yang isinya pungutan semua. Dan itu sangat tidak bagus. Jangan hanya ingin mengumpulkan PNBP (penerimaan negara bukan pajak) lebih besar malah memperbanyak pungutan,” tegasnya.

Bahkan, jelas dia, terkait dengan SVLK ini, dirinya akan langsung melaporkan ke Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution. “Kalau biayanya segitu, sangat mahal saya akan laporkan langsung ke Menko,” tambah dia.

Meski begitu, dirinya tidak mau berpolemik antar Kementerian di depan publik. “Tapi ya kalau itu kebijakan menteri, saya tidak mau berpolemik lebih jauh. Nanti akan dibahas di Kemenko,” ucap Edy.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menambahkan, segala pungutan dalam bentuk PNBP di K/L atau pemda ini justru menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Padahal mestinya K/L jangan merecoki dunia usaha dengan segala pungutan melainkan fokus saja untuk melayani publik.

“Justru mestinya pungutan itu bentuknya pajak saja. Jadi biar pemerintah (Kementerian Keuangan) yang konsentrasi menggenjot pajak. K/L atau pemda jangan mengganggu. Itu justru menjadi beban dunia usaha juga,” ujar dia.

Adanya kondisi tersebut, pihaknya sudah menyarankan ke Kementerian Keuangan agar mereka tidak lagi menarik segala macam PNBP dari setiap K/L.

“Kami sudah sarankan ke Kemenkeu agar PNBP di K/L ditiadakan, sebagai gantinya pemerintah harus serius mengejar target pajak seperti yang terjadi di banyak negara,” tutup Enny. (*) Rezkiana Nisaputra

Apriyani

Recent Posts

Biar Nggak Tekor, Ini Cara Atur THR dan Jaga Kesehatan saat Lebaran

Poin Penting THR menjadi momentum menata keuangan, mulai dari kewajiban, utang, tabungan, hingga perlindungan finansial.… Read More

5 hours ago

BI Tetap Siaga di Pasar Jaga Rupiah selama Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri

Poin Penting BI tetap siaga memantau rupiah selama libur Lebaran, termasuk melalui pasar offshore meski… Read More

8 hours ago

Dampak Perang Timur Tengah, BI Tarik Sinyal Penurunan Suku Bunga

Poin Penting BI tidak lagi memberi sinyal penurunan suku bunga akibat meningkatnya risiko global dari… Read More

8 hours ago

BSN Jalin Kerja Sama dengan Ekosistem Properti Syariah Indonesia

Kerjasama ini juga membuka ruang bagi pengembangan bisnis terutama inisiatf mendukung program pemerintah dalam pengembangan… Read More

8 hours ago

Porsi Pembiayaan Meningkat, Maybank Indonesia Perkuat Pembiayaan SME Syariah

Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk memperkuat pembiayaan SME syariah sebagai pilar utama pengembangan… Read More

10 hours ago

Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri, Tarif LRT Jabodebek Dipatok Maksimal Rp10.000

Poin Penting PT Kereta Api Indonesia (Persero) menetapkan tarif maksimal LRT Jabodebek sebesar Rp10.000 selama… Read More

11 hours ago