Senior Executive Vice President Change Management Office Bank Victoria, Muhammad Rakhmadani (kiri), dan Country Manager Red Hat Indonesia, Vony Tjiu, dalam diskusi bersama, di Jakarta, Rabu, 24 September 2025. (Foto: Ayu Utami)
Poin Penting
Jakarta - Bank Victoria kian serius mempercepat transformasi digital dengan mengadopsi teknologi open source dan kecerdasan buatan (AI).
Langkah tersebut bukan sekadar mengikuti tren, tetapi strategi memperkuat performa aplikasi, menekan biaya akuisisi nasabah, serta menyiapkan terobosan baru lewat pengembangan super app.
Sejak pandemi, kompetisi perbankan nasional semakin bergeser ke ranah digital. Bank Victoria menyadari bahwa layanan digital bukan lagi pelengkap, melainkan kunci utama untuk mempertahankan relevansi di tengah persaingan industri.
Senior Executive Vice President Change Management Office Bank Victoria, Muhammad Rakhmadani, menjelaskan bahwa bank mulai beralih ke platform open source enterprise sekitar dua tahun terakhir untuk mengatasi keterbatasan sistem lama.
“Sebelumnya, aplikasi kami tidak bisa berjalan mulus karena keterbatasan arsitektur. Begitu naik ke level enterprise dengan open source, performa meningkat signifikan, keamanan lebih kuat, dan aplikasi berjalan lebih lancar,” ujarnya dalam diskusi bersama Red Hat Indonesia, di Jakarta, Rabu, 24 September 2025.
Baca juga: Bank Victoria Syariah Resmi Berubah Nama Jadi Bank Syariah Nasional
Menurut Dhani, peningkatan performa dan keamanan ini memberi dampak langsung pada citra bank.
“Security yang baik otomatis jadi good branding. Itu membuat masyarakat lebih percaya, dan akhirnya akuisisi nasabah baru jadi lebih mudah,” jelasnya.
Dhani mengungkapkan, transformasi digital mulai terlihat pada penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Dalam dua tahun terakhir, sekitar 10 persen DPK Bank Victoria berasal dari layanan digital.
“Dengan digital, tanpa menambah banyak kantor cabang, kami bisa tumbuh lebih cepat sekaligus efisien,” katanya.
Artinya, inovasi digital memungkinkan bank menjaring lebih banyak nasabah dan dana simpanan tanpa harus mengandalkan perluasan jaringan fisik.
Kanal digital menjadi alternatif yang lebih praktis dan hemat biaya, sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis Bank Victoria.
Selain itu, biaya akuisisi nasabah yang semula tinggi kini dapat ditekan berkat digitalisasi.
Bank Victoria juga mulai mengoptimalkan analitik dan efisiensi operasional untuk memperluas penetrasi pasar.
“Digital itu borderless. Walaupun Bank Victoria bukan bank besar, kami harus bisa mengambil kue yang sama dengan bank-bank lain,” tegas Dhani.
Baca juga: Marak Serangan Siber, OJK Minta Bank Lakukan Ini
Sementara, Country Manager Red Hat Indonesia, Vony Tjiu, menjelaskan teknologi open source yang dimiliki Red Hat memberikan fleksibilitas tinggi bagi Bank Victoria untuk menyesuaikan sistem sesuai kebutuhan bisnis.
Dengan model terbuka, bank dapat mengembangkan aplikasi dan layanan digital tanpa terkunci pada satu vendor, sekaligus menekan biaya infrastruktur.
“Open source itu tidak hanya soal hemat biaya, tapi juga soal kolaborasi dan inovasi yang lebih cepat. Kami bisa menyesuaikan sistem dengan kebutuhan Bank Victoria secara berkelanjutan,” ujarnya, Rabu, 24 September 2025.
Lebih jauh, ia menenkankan, integrasi AI membantu bank mempercepat pemrosesan data, meningkatkan akurasi analisis, hingga mendeteksi potensi risiko.
“AI membantu bank tidak hanya dalam automasi proses, tetapi juga dalam pengambilan keputusan berbasis data,” tambah Vony.
Langkah transformasi digital Bank Victoria tidak berhenti pada adopsi open source dan AI. Perseroan kini tengah menyiapkan super app yang menyasar segmen anak muda, termasuk pelajar SMP dan SMA, dengan tujuan mendorong literasi digital sekaligus literasi keuangan sejak dini.
Melalui aplikasi ini, generasi muda dapat mengakses layanan e-wallet, QRIS, tabungan, hingga reksa dana dalam satu platform terpadu. Orang tua juga bisa mengatur limit transaksi anak, sehingga fitur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga sebagai sarana edukasi finansial.
“Anak-anak SMP, SMA bisa belajar transaksi perbankan sejak dini. Bukan hanya pakai e-wallet, tapi produk perbankan yang lengkap. Limitnya bisa diatur orang tua, jadi lebih aman dan mendidik,” kata Dhani.
Baca juga: Tren Menabung di E-Wallet Meningkat, OVO Nabung Tembus 1 Juta Pengguna
Super app ini juga akan dilengkapi dengan fitur sosial, seperti split bill. Harapannya, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga dapat mengembangkan kreativitas dan aktivitas ekonomi digital mereka melalui ekosistem Bank Victoria.
“Kami ingin menghadirkan beberapa fitur yang belum tersedia di aplikasi lain. Itu sedang kami kerjakan, dan mudah-mudahan tahun depan bisa diluncurkan. Targetnya, super app ini benar-benar komplit, performanya bagus, smooth, aman, serta bermanfaat untuk seluruh stakeholders Bank Victoria,” tambahnya.
Sementara itu, Voni menegaskan bahwa pendekatan open source mendukung ambisi Bank Victoria untuk meluncurkan super app.
“Arsitektur super app itu sangat kompleks, butuh fleksibilitas dan keamanan tinggi. Dengan open source, pengembangan bisa lebih cepat, lebih aman, dan terjangkau. Itu membuat bank mampu menghadirkan inovasi tanpa beban biaya berlebih,” pungkasnya. (*) Ayu Utami
Page: 1 2
Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group EKONOMI politik perbankan Indonesia sedang sakit.… Read More
Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More
Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More
Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More