Poin Penting
- Bank Sampoerna mencatat laba bersih Rp8,9 miliar hingga Maret 2026, tumbuh 68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,3 miliar.
- Penyaluran kredit Bank Sampoerna mencapai Rp11 triliun dengan 59 persen dialokasikan ke sektor UMKM, ditopang penghimpunan DPK sebesar Rp15 triliun dan pertumbuhan CASA 29,6 persen yoy
- Fundamental Bank Sampoerna tetap terjaga dengan NPL net 2,70 persen, CAR 30,03 persen, LDR 73,27 persen, serta total aset mencapai Rp19,5 triliun hingga Maret 2026.
Jakarta – PT Bank Sahabat Sampoerna atau Bank Sampoerna berhasil membukukan laba bersih Rp8,9 miliar hingga Maret 2026 atau meningkat 68 persen dibandingkan periode sebelumnya yang senilai Rp5,3 miliar.
Capaian laba tersebut tak lepas dari kinerja intermediasi yang solid. Hingga Maret 2026, Bank Sampoerna berhasil menyalurkan pembiayaan di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mencapai 59 persen dari total portofolio pembiayaan sebesar Rp11 triliun.
Capaian tersebut juga didukung oleh porsi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang kuat sebesar Rp15 triliun hingga akhir Maret 2026. DPK tersebut ditopang dengan meningkatnya porsi dana murah dalam bentuk giro dan tabungan.
Baca juga: 57,16 Persen Kredit Bank Sampoerna Disalurkan ke UMKM
Jika dirinci, giro perusahaan mencapai Rp2,01 triliun, naik dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp1,34 triliun. Selain itu, segmen tabungan juga mengalami peningkatan menjadi Rp1,43 triliun dari Rp1,31 triliun.
Secara keseluruhan, dana murah atau CASA (current account & saving account) bertumbuh sekitar 29,6 persen secara year-on-year (yoy).
Direktur Finance & Business Planning PT Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra, menegaskan bahwa, salah satu kunci pertumbuhan kepercayaan tersebut adalah upaya perseroan dalam menghadirkan pengelolaan operasional yang efisien, transparan, dan kredibel.
“Hal ini tercermin dari rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Sampoerna yang terus membaik menjadi 96,33 persen pada akhir Maret 2026 dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 97,26 persen,” ucap Henky dalam keterangan resmi dikutip, 22 Mei 2026.
Henky menambahkan, pertumbuhan bisnis tetap menjadi fokus Bank Sampoerna dalam menghadapi dinamika industri perbankan. Karena itu, efisiensi operasional dan pengelolaan risiko yang disiplin terus dijaga untuk memperkuat fundamental Bank.
Melalui penerapan prinsip kehati-hatian, Bank Sampoerna juga senantiasa menjaga kualitas aset dengan pengelolaan risiko yang berkelanjutan.
Baca juga: Bank Sampoerna Hadirkan Wajah Baru Aplikasi SMB, Ini Fitur Unggulannya
Hal itu terbukti oleh rasio kredit bermasalah bersih atau non-performing loan (NPL Net) yang tetap terjaga pada level 2,70 persen hingga akhir Maret 2026.
Sementara itu, rasio kecukupan modal Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 30,03 persen dan rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 73,27 persen, dengan total aset bank mencapai Rp19,5 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama


